Pendidikan

Abad Kedelapan Hijriyah dan Seterusnya

Abad Kedelapan Hijriyah dan Seterusnya

Pada abad kedelapan Hijriyah, tasawuf telah mengalami kemunduran. Ini diantaranya karena orang-orang yang berkecimpung dalam bidang tasawuf, kegiatannya sudah terbatas pada komentar-komentar atau meringkas buku-buku tasawuf terdahulu serta menfokuskan perhatian pada aspek-aspek praktek ritual yang lebih berbentuk formalitas sehingga semakin jauh dari subtansi tasawuf. Pada periode ini hampir tidak terdengar lagi perkembangan pemikiran baru dalam tasawuf, meskipun banyak tokoh-tokoh sufi yang mengemukakan pikiran-pikiran mereka tentang tasawuf. Diantaranya adalah Al-Kisani dan Abdul Karim Al-Jilli. Di antara penyebab kemunduran mungkin adalah kebekuan pemikiran serta spritualitas yang kering melanda dunia Islam semenjak masa-masa akhir periode Dinasti Umayyah.

8.3. Praktek Tasawuf dan Pengkajiannya

Mungkin layak dikatakan bahwa praktek spritual (tasawuf) adalah inti ajaran sufisme. Sudut pandangan teori-teori dan metafisikanya telah dielaborasikan oleh para sufi tapi tentu saja kehidupan dalam sufi dapat kita jumpa dalam meditasi (dzikir), shalat, puasa dan praktek sehari-hari lainnya. Dalam faktanya, sebahagian besar sufi menetapkan beragam dan bermacam-macam praktek tasawuf. Praktek-praktek yang bersifat mediatif ini benar jika dihubungkan dengan apa yang disebut sebagai “mengingat” nama-nama Allah.

Di dalam tasawuf akhlaqi untuk menghilangkan penghalang yang membatasi manusia dengan Tuhannya, ahli-ahli tasawuf menyusun sebuah sistem atau cara yang tersusun atas dasar didikan tiga tingkat yang beri nama: takhalli, tahalli, dan tajalli.

Takhalli adalah usaha membersihkan diri dari semua perilaku tercela, baik maksiat batin maupun maksiat lahir. Tahalli adalah tahapan pengisian jiwa setelah dikosongkan dari akhlak-akhlak tercela. Diantara sikap mental yang sangat penting untuk diisikan kedalam jiwa manusia adalah al-taubah, al-khauf wa raja’, al-zuhd, al-faqr, al-shabr dan lain. Tajalli, berarti tersingkapnya nur ghaib. Agar apa yang telah diupayakan pada langkah-langkah diatas langgeng, berkelanjutan dan terus meningkat, maka mesti rasa ketuhanan di dalam semua aktifitas akan melahirkan kecintaan dan kerinduan kepada- Nya. Untuk melanggengkan rasa kedekatan dengan Tuhan ini, para sufi mengajarkan hal- hal berikut: Munajat, Muhasabah, Muqarabah, Kasrat al-Dzikir, Dzikir al-maut dan tafakur.

Hal ini juga dilakukan oleh beberapa tarekat walaupun dalam prakteknya berbeda seperti tarekat Naqsabandiyah. Adapun beberapa praktek tasawuf yang mereka lakukan adalah dzikir, rabithah, suluk 40 hari dan tidak makan daging.[16]

8.4. Pendekatan Utama Dalam Kajian Tasawuf

Menurut Charles J Adams diantara banyak bidang kajian dalam studi Islam, tasawuf merupakan bidang yang menarik minat pada tahun belakangan. Studi tradisi Islam tidak dapat dilepaskan dari studi tentang mistis yang mungkin juga merupakan aspek yang muncul pada masa awal Islam bahkan pada masa kenabian. Adams menunjukkan beberapa sarjana yang tertarik mengkaji tasawuf, antara lain Annemarie Schimmel, dengan bukunya Mystical Dimensions of Islam. Hal terpenting dari pendapat Adam adalah untuk menstudi tasawuf dapat didekati dengan pendekatan fenonemologi.

Pendekatan fenonemologi adalah pendekatan yang lebih memperhatikan pada pengalaman subjektif, individu karena itu tingkah laku sangat dipengaruhi oleh pandangan individu terhadap dirinya dan dunianya. Konsep tentang dirinya, harga dirinya dan segala hal yang menyangkut kesadaran atau aktualisasi dirinya. Ini berarti melihat tingkah laku seseorang selalu dikaitkan dengan fenomena tentang dirinya.

Sedangkan menurut Harun Nasution, kajian tasawuf dapat dilakukan dengan pendekatan tematik yaitu penyajian ajaran tasawuf disajikan dalam tema jalan untuk dekat pada Tuhan, zuhud, dan station-station lain, mahabbah, al-ma’rifah, al fana dan al-baqa, al- ittihad, al-hulul dan wahdatul wujud. Pada setiap topik tersebut selain dijelaskan tentang isi ajaran dari setiap topik tersebut dengan data-data yang didasari pada literatur kepustakaan, juga dilengkapi dengan tokoh yang memperkenalkannya.

Kajian tasawuf yang dilakukan dengan pendekatan tematik akan terasa lebih menarik karena langsung menuju kepada persoalan tasawuf di bandingkan dengan pendekatan yang bersifat tokoh. Kajian tersebut sepenuhnya bersifat deskriptif eksploratif, yakni menggambarkan ajaran sebagaimana adanya dengan mengemukakannya sedemikian rupa, walaupun hanya dalam garis besar saja.

baca juga :