Agar Tidak Gampang Mencela

Agar Tidak Gampang Mencela

Agar Tidak Gampang Mencela

Agar Tidak Gampang Mencela
Agar Tidak Gampang Mencela

Lima Langkah Agar Tidak Gampang Mencela

Ada sebuah hadits pendek yang memberi pelajaran kepada kita bahwa melecehkan orang lain merupakan suatu tindak kejahatan. Rasulullah SAW bersabda, “Mencela orang Islam adalah kefasikan, sedang membunuhnya adalah kekufuran.” (Riwayat Muslim). Para ulama sepakat bahwa melecehkan orang islam tanpa dasar dan data yang benar adalah perbuatan yang haram. Sedangkan pelakunya dihukum fasik.

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya riba yang paling parah adalah memperpanjang pembicaraan dalam mencela kehormatan seorang Muslim tanpa kebenaran.” (Riwayat Abu Dawud). Lalu bagaimana caranya agar kita bisa terhindar dari perbuatan tercela tersebut, padahal kita biasanya sangat asyik jika dilibatkan, atau malah aktif melibatkan orang lain, dalam membicarakan kejelekan dan kekurangan orang?.

Pertama, sibuklah meneliti kekurangan sendiri

Kita harus menyadari bahwa waktu yang tersedia untuk setiap kita sebagai mukmin sangat terbatas. Kita sadar bahwa waktu yang terbatas itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk berbuat kebaikan, baik dalam rangka mencari keberkahan dunia maupun sebagai bekal untuk kehidupan akhirat. Kesadaran ini pula yang menjadikan kita selalu terdorong untuk meninggalkan segala kesia-siaan (tabdzir), apalagi melakukan kejahatan seperti merusak kehormatan orang lain.

Jadi, mencari-cari kesalahan orang lain dan menyebarluaskan untuk menghancurkan kehormatannya merupakan kemubaziran, sekaligus dosa. Tidak ada manfaat sedikitpun. Lebih baik mereka sibuk mencari dan meneliti kesalahan diri sendiri. Dalam kitab Risalah Al-Mustarsyidin, Al-Muhasibi berkata, “Daripada sibuk mengomentari kekurangan orang lain, sibukkanlah dirimu dengan memperbaiki dirimu sendiri. Cukuplah aib bagi seseorang jika dia lebih mengetahui kekurangan orang lain daripada kekurangannya sendiri, atau dia menuduh orang lain dengan sebuah keburukan padahal dia sendiri melakukan hal yang sama, atau menyakiti teman duduknya, atau dia mengatakan sesuatu tentang orang lain yang tidak bermanfaat baginya.”

Kedua, tidak mencela orang lain

Kita harus menyadari tentang kekurangan dan kesalahan setiap manusia. Tidak ada manusia yang sempurna dan terlepas dari salah dan dosa. Oleh karena itu, tidak ada sepantasnya kita menjelekkan dan menghina orang lain. Sebaliknya, jika kita muslim sejati, maka kita wajib menghormati saudara Muslim. Semua kekurangan dan kejelekan orang lain selalu kita usahakan untuk ditutup rapat-rapat. Kekurangan orang lain adalah rahasia yang menjadi amanat bagi kita untuk tidak dibongkar. Membuka aib orang lain merupakan perbuatan kotor dan keji.

Rasulullah SAW bersabda, “Dua orang yang saling mencela adalah setan yang saling meremehkan dan dusta.” (Riwayat Bukhari). Suatu hari ada seorang wanita berkonsultasi kepada seorang alim. Di tengah konsultasi, wanita tersebut mengeluarkan angin (kentut) yang baunya menyebar kemana-mana. Ulama tersebut justru pura-pura tidak tahu dan berpura-pura terserang flu. Wanita tersebut akhirnya tidak merasa malu akibat kejadian tersebut. Begitulah cara orang bijaksana ketika menyaksikan kekurangan orang lain. Ia berusaha menutupinya agar tidak diketahui orang lain.

Ketiga, tidak membalas celaan

Di sekitar kita sangat mudah dijumpai orang-orang yang mulutnya mudah mengucapkan kata celaan. Lisannya sangat mudah meremehkan orang lain. Pada dasarnya mereka tidak suka jika dihina, tapi karena sudah menjadi karakter dan kebiasaannya, mereka tidak puas jika tidak meremehkan orang lain.
Terhadap orang-orang jahil seperti ini, pada dasarnya kita memiliki hak untuk merendahkan dan menghinakannya. Adalah hak kita membalas kezaliman dengan perbuatan yang setimpal. Jika mereka punya bahan untuk menghina kita maka kita juga punya bahan yang sama untuk menghinakannya.

Akan tetapi Rasulullah SAW menasehati kita, “Jika seorang mencelamu dan menghinakanmu dengan apa yang ia ketahui tentang dirimu maka janganlah kamu balik mencelanya terhadap apa yang kamu ketahui tentang dirinya,dan kebiasaan berpihak padanya.” (Riwayat Abu Dawud)

Allah SWT menegaskan :
Dan jika kamu memberikan balasan,maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpahkan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar,sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang bersabar.(An-Nahl [16]: 126)

Maukah menjadi orang yang bersabar? Berat,memang.Akan tetapi itulah kemudian akhlak yang diajarkan Islami. Jika kita dihina dan diremehkan orang lain,maka akhlak Islami mengajarkan kita untuk memanfaatkan dan tidak membalasanya.

Keempat, membalas dengan kebaikan

”Keenakan! Sudah untung tidak dibalas!” Begitu komentar kita saat diminta untuk memaafkan orang yang telah menghina dan melecehkan kita.
Memang tidak membalas dan memaafkan itu sudah merupakan sesuatu kemuliaan tersendiri, bahkan di sisi Allah SWT pahalanya sangat besar. Akan tetapi orang yang sudah pada tingkat dan derajat “ihsan” akan menyertai kemaafannya dengan kebaikan.

Banyak orang yang mengira bahwa tidak membalas itu kelemahan, padahal itu adalah kekuatan. Banyak orang yang menyangka bahwa memaafkan itu merupakan kekalahan, padahal di balik kata maaf itu ada sifat kesatria dan keberanian.
Banyak orang yang tidak tahu bahwa membalas kejahatan dengan kebaikan adalah suatu yang dahsyat. Hanya orang-orang mulia dan berhati emas saja yang bisa melakukannya.

Dalam suatu Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud,diceritakan ada seorang laki-laki yang mencela Abu Bakar RA. Namun beliau diam dan tidak menanggapinya.
Lalu Laki-laki tersebut menyakitinya untuk kedua kalinya. Lagi-lagi Abu Bakar diam dan tidak menanggapi. Kemudian Laki-laki itu menyakiti untuk ketiga kalinya. kali ini Abu Bakar membela diri.
Rasulullah SAW pun berdiri saat Abu Bakar membela diri. Abu Bakar bertanya, “Apakah engkau marah kepadaku wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Malaikat telah turun dari langit untuk mendustakan celaanya kepadamu. Namun ketika engkau membela diri maka setan pun datang. Saya tidak bisa duduk jika setan itu telah datang.”

Rasulullah SAW adalah manusia yang berakhlak mulia.Namun,bersama beliau ada ratusan dan ribuan sahabat mulia yang mengitarinya. Mereka adalah generasi emas yang patut menjadi teladan bagi kita semua dalam menjaga kehormatan orang lain.

Kelima, takut siksa di Akhirat.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang menuduh seorang Muslim (menyebutkan aib,keburukan,dan kekurangannya) maka Allah akan menahannya di Jembatan Jahannam , sehingga dia mencabut apa yang dia tuduhkan.” (Riwayat Abu Dawud)

Di era media sosial ini, alangkah mudahnya bagi kita menyebarkan gosip, fitnah, dan berbagai tuduhan keji kepada orang. Kejahatan-kejahatan tersebut kurang lengkap rasanya jika tidak disertai umpatan,penghinaan, pelecehan,dan penodaan terhadap kehormatan.

Terhadap hal tersebut kita mesti sadar jika neraka jahannam telah menanti kita jika sampai melakukan perbuatan tercela tersebut. Mudah-mudahan kita diselamatkan dari Neraka.

Sumber: https://www.catatanmoeslimah.com/