Ahwal
Pendidikan

Ahwal

Ahwal

Ahwal
Ahwal

Secara bahasa, ahwal merupakan jamak dari kata tunggal hal yang berarti keadaan sesuatu (keadaan rohani).[38] Menurut Syeikh Abu Nashr as-Saraj, hal adalah sesuatu dari kejernihan dzikir yang bertempat dalam hati, atau hati dalam kejernihan dzikir tersebut.[39] Sedangkan menurut al-Ghazali, hal adalah kedudukan atau situasi kejiwaan yang dianugrahkan Allah kepada seorang hamba pada suatu waktu, baik sebagai buah dari amal saleh yang mensucikan jiwa atau sebagai pemberian semata. Jadi dapat disimpulkan bahwa hal adalah suatu keadaan jiwa yang terjadi secara mendadak yang bertempat di dalam hati nurani yang datang akibat dari bersih dan sucinya hati dan bersifat sementara atau tidak lama.
Hal berlainan dengan maqam, hal tidak menentu datangnya, terkadang datang dan perginya berlangsung cepat, yang disebut lawih dan adapula yang datang dan perinya bersifat lama, yan disebut bawadih. Jika maqam diperoleh melalui usaha, akan tetapi hal bukan diperoleh melalui usaha, akan tetapi anugrah dan rahmat dari Tuhan. Maqam sifatnya permanen, sedangkan hal sifatnya temporer sesuai tingkatan maqamnya.[40] Sebagaimana halnya dengan maqamat, dalam penentuan hal juga terdapat perbedaan di kalangan sufi, disini kami akan menjelaskan pembagian hal menurut Syekh Abu Nashr as-Saraj al-Tusi yang dijelaskan dalam kitabnya yaitu al-Luma’, berikut pembagian dan penjelasan yang kami sampaikan:
1. Muraqabah
Menurut kaum sufi, muraqabah yaitu keyakinan seorang hamba bahwa Allah selalu memandang hambanya, baik lahir, batin, dan hatinya.[41]Abdul Aziz al-Dayrayni mengatakan bahwa muraqabah sebagai bagian ahwal dalam tasawuf, berasal dari kemampuan taqwa manusia, yaitu pemahaman diri terhadap pentingnya sikap pengawasan segala perilaku sehari-hari, yang bertujuan untuk mewujudkan rasa malu berbuat buruk, kehebatan sikap dan ketinggian akhlak.[42]
Muraqabah ini merupakan keadaan hati yang dihasilkan oleh pengenalan terhadap Allah. Keadaan ini akan membuahkan amal perbuatan, baik yang dilakukan oleh anggota badan maupun hati. Menumbuhkan selalu siap dan waspada bahwa dalam keadaan apapun diawasi oleh Allah SWT. memandang bahwa Allah selalu dekat bersama kita dan mengetahui apa yang dilakukan oleh hambanya. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi: QS 2:235

وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا فِى اَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوْهُ
Menurut Al-Ghazali, seorang yang muraqabah dapat melakukannya sebanyak dua kali, yaitu muraqabah yang dilakukan dengan mengamati seluruh gerak dan diamnya badan serta gerak hati, dan dilakukan dengan mengamati cara dalam melaksanakan amal untuk memenuhi hak Allah dan selalu menyempurnakan niatnya selama menyelesaikan amalnya.[43]
Orang-orang yang muraqabah dibedakan menjadi tiga tingkatan:
Pertama adalah sebagimana yang dikemukakan oleh al-Hasan bin Ali di atas, dimana tingkatan ini adalah tingkatan kondisi spiritual para pemuda dalam muraqabah.
Tingkatan kedua adalah sebagimana yang diceritakan dari Ahmad bin’Atha’ rahimahullah yang mengantarkan,” sebaik-baik kalian adalah orang yang selalu muraqabah kepada al-haq dengan al-haq dalam kefanaan apa yang selain al-haq dan mengikuti sang Nabi pilihan saw. Dalam segala perbuatan, akhlak dan adab beliau”.
Adapun tingkat ketiga adalah tingkatan orang-orang besar. Mereka selalu muraqabah kepada Allah swt. Dan memohon kepada Nya agar dia senantiasa memelihara mereka untuk bisa selalu ber-muraqabah. Karena Allah telah mengistemawakan orang-orang pilihan-Nya dan orang-oarang khusus dengan spritualnya kepada seorang pun. Sebab dialah yang menguasai dan melindungi segala urusan mereka.[44]

Sumber : https://tribunbatam.co.id/photo-touch-art-pro-apk/