Ayat Yang Menujukkan Larangan Mengangkat Pemimpin Orang Kafir
Agama

Ayat Yang Menujukkan Larangan Mengangkat Pemimpin Orang Kafir

Ayat Yang Menujukkan Larangan Mengangkat Pemimpin Orang Kafir

Ayat Yang Menujukkan Larangan Mengangkat Pemimpin Orang Kafir
Ayat Yang Menujukkan Larangan Mengangkat Pemimpin Orang Kafir

Ayat-Ayat Lain Yang Menunjukkan Akan Larangan Mengangkat Pemimpin Orang Kafir

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاء بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاء تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang..”
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?”
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آَبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ.
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لاَ يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu.”

Tinjauan Sayariat Terhadap Ayat

Apakah hukum seorang Muslim meminta bantuan kepada orang kafir pada peperangan?
Para ulama’ fiqih mereka berelisih pendapat akan boleh dan tidaknya seorang muslim meminta bantuan kepada orang kafir dalam peperangan.

Baca Juga: Kalimat Syahadat

Pendapat Malikiyah

Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk meminta bantuan kepada orang kafir sebagaimana telah disebutkan dalam keumuman ayat dan kisah Ubadah bin Shamit, dan juga telah dijelaskan dalam sebab turunya ayat, mereka juga berdalil dengan haidts dari Aisyah “bahwasanya ada seseorang musyrik datang kepada Rasulullah dia adalah seorang yang memiliki kemampuan dan terpandang, ketika hendak perang badar dia meminta izin kepada Rasulullah untuk ikut perang maka Rasulullah pun berkata kepadanya :”pulanglah kamu karena aku tidak membutuhkan pertolongan orang musyrik”.
Mayoritas ulama’ berpendapat (As-Syafi’iyah, Al-Hanabilah, dan Hanafiyah) diperbolehkan seseorang meminta pertolongan kepada orang kafir dalam peperangan dengan dua syarat :

1. Karena mememang dibutuhkan
2. Untuk mengokohkan pasukan kaum Muslimin berdasarkan dengan dalil apa yang pernah dilakukan Rasulullah saw, bahwasanya beliau pernah meminta bantuan kepada orang Yahudi Qoinuqa’ , dan begitu pula Rasulullah saw bpernah meminta pertolongan kepada Safwan bin Umayah ketika memerangi orang-orang Hawazin, maka dalil inilah yang menunjukkan akan kebolehanya meminta bantuan kepada orang kafir dalam peperangan.
Adapun pendapat dari Imam Malik yang menyelisihinya telah dibantah bahwasanya dalil yang dipakai oleh Imam Malik sudah dihapuskan dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw.
Apa yang dimaksud dengan Taqiah dan bagaimana hukumnya?

Ibnu Abas berkata yang dimaksud dengan taqiah adalah seseorang mengatakan kalimat kekufuran sedangkan hatinya masih mantap dengan keimanan, maka hukumnya tidak dibunuh dan tidak berdosa. Dan ada juga yang memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan taqiah adalah menjaga diri dan harta dari kejahatan musuh kemudian denganya dia menampakan dukunganya kepadanya akan tetapi hatinya tidak meyakini.
Hal yang sama juga dikatakan Abul ‘Aliyah, Abu Sya’tsa’, Adh-Dhahhak dan Ar-Rabi’ bin Annas.
Imam Al-Bukhari menceritakan, Al-Hasan mengatakan: “Taqiyah itu berlaku sampai hari kiamat.
Al-Jashas berkata dalam Ahkamul Qur’an “ayat ini telah menunjukkan hukum akan kebolehanya menampakan kekufuran kepada orang kafir akan tetapi dalam hal taqiah, sebagai mana Allah swt berfirman :

مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
“Barang siapa yang kufur kepada Allah setelah keimanan mereka kecuali orang-orang yang dipaksa untuk mengucapkan kekufuran sedangkan hatinya tetap mantap dalam keimanan”

Ketika seseorang melakukan taqiah merupakan sesuatu keringanan yang diberikan Allah swt kepadanya bukan merupakan suatu kewajiban, sebagai mana yang telah menjadi kesepakatan madzhab kami barang siapa yang dipaksa untuk melakukan kekufuran akan tetapi dia tidak melakukanya dan karenaya dia dibunuh maka di bunuhnya dia itu lebih afdhal daripada dia melakukan kekufuran, sebagaimana yang pernah terjadi pada Hubaib bin Adi yang mana beliau tertangkap oleh orang musyrik dan tidak memberikan taqiah kepada mereka sehingga dia dibunuh, dengan apa yang dilakukan oleh Adi bin Hatim lebih afdhal dengan apa yang dilakukan oleh Amar bin Yasir dengan dia memberikan taqiah kepada orang kafir sehingga denganya dia tidak dibunuh, dan kemudain Nabi pernah bertanya kepada Amar bin Yasir bagai mana dengan hati mu? Maka Amar bin Yasir berkata hatiku tetap mantap dalam keimanan, Rasul berkata apabila mereka melakukan hal yang demikaian lagi maka lakukanlah akan tetapi itu hanyalah suatu keringanan saja”