Perikanan

Berdasarkan Sifat Asal

Berdasarkan Sifat Asal/ Makna Yang Di Kandungnya

  1. Hadîts Qudsîy

1)      Pengertian Hadîts Qudsîy

Secara bahasa al-Hadîts al-Qudsîy berasal dari dua kata yaitu al-Hadîts dan al-Qudsîy. Al-Qudsîy merupakan nisbah dari kata القدس (al-qudsu) bermakna الطهر (al-thuhru). الطاهر المنزه عن العيوب والنقايص (Zat yang Maha Suci yang jauh dari ‘aib dan kekurangan). Jadi secara bahasa dapat diartikan Hadîts Qudsîy adalah hadîts yang disandarkan/dinisbahkan kepada Zat Yang Maha Suci /Allah.[[12]]

Menurut lughat lafadz qudsi artinya suci. Berarti hadits qudsi artinya hadits yang suci[[13]]

Sedangkan secara istilah Hadîts Qudsîy adalah hadîts yang disampaikan kepada kita dari Nabi Muhammad SAW yang sanadnya disandarkan kepada Allah SWT. Defenisi ini penulis tarik dari beberapa defenisi yang ada di dalam beberapa kitab Ilmu Hadîts, seperti defenisi-defenisi berikut ini:

Ø  Defenisi yang ditulis Oleh Nuruddîn Itr adalah

هو ما اضيف إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم واسنده الى ربه عز وجل[[14]]

“Dia (Hadîts Qudsîy) adalah Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi SAW, yang sanadnya atau penisbatannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla

Ø  Defenisi yang ditulis Oleh Mahmûd Thahân adalah

هو ما نقل الينا عن النبي صلى الله عليه وسلم مع اسناده اياه الى ربه عز وجل[[15]]

Apa-apa yang disampaikan kepada kita dari Nabi SAW, yang sanadnya disandarkan kepada Tuhan-nya (Allah ‘Azza wa Jalla) ”

Ø  Menurut istilah Muhadditsin hadits qudsi ialah sesuatu yang dikhabarkan oleh Allah Ta’ala kepada NabiNya dengan jalan ilham ataupun impian, kemudian nabi menyampaikan makna atau impian itu dengan ungkapan kata beliau sendiri[[16]]

2)      Perbedaan Antara Hadîts Qudsîy dengan Al-Qur’ân

Terkait dengan perbedaan antara Hadîts Qudsîy dengan al-Qur’ân terdapat perbedaan di kalangan ulama. Di antara yang paling jelas adalah antara pendapat Abu al-Baqâ’ al-‘Ukbûrîy dan Thayyibîy, sebagaimana yang dikutip oleh Nuruddîn Itr di dalam kitabnya. Beliau mengungkapkan sebagai berikut:[[17]]

Abu al-Baqâ’ berkata  : Sesungguhnya lafaz dan makna al-Qur’ân berasal dari Allah melalui pewahyuan secara terang-terangan, sedangkan Hadîts Qudsîy itu redaksinya dari Rasul Allah dan maknanya berasal dari Allah melalui pengilhaman atau mimpi.

Al-Thayyibîy berkata: Al-Qur’ân diturunkan melalui perantaraan malaikat kepada Nabi Muhammad SAW, sedangkan Hadîts Qudsîy itu maknanya berisi pemberitaan Allah melalui ilham atau mimpi, lalu nabi Muhammad memberitakan kepada umatnya dengan bahasa sendiri.

Al-Qur’ân memiliki keistimewaan yang tidak terdapat di dalam Hadîts Qudsîy, di antaranya adalah:

  1. Al-Qur’ân itu lafaz dan maknanya dari  Allah, sedangkan Hadîts Qudsîy maknanya dari Allah dan redaksinya dari Nabi.
  2. Membaca Al-Qur’ân termasuk ibadah dan mendapat pahala, sedangkan Hadîts Qudsîy tidak demikian.
  3. Semua lafaz Al-Qur’ân adalah mutawâtir, terjaga dari perubahan dan pergantian karena ia mukjizat, sedangkan Hadîts Qudsîy tidak demikian.
  4. Membaca Al-Qur’ân disunatkan di dalam shalat sedangkan Hadîts Qudsîy tidak.
  5. Ada larangan menyentuh mushaf Al-Qur’ân bagi orang yang ber-hadas, sedangkan Hadîts Qudsîy tidak.

sumber :

https://koruptorindonesia.co.id/2020/04/28/forest-rescue-2-apk/