Berita 22 Persen Mahasiswa Unej Radikal Bikin Galau

Berita 22 Persen Mahasiswa Unej Radikal Bikin Galau

Berita 22 Persen Mahasiswa Unej Radikal Bikin Galau

Berita 22 Persen Mahasiswa Unej Radikal Bikin Galau
Berita 22 Persen Mahasiswa Unej Radikal Bikin Galau

Berita mengenai 22 persen mahasiswa Universitas Jember di Kabupaten Jember,

Jawa Timur, terpapar radikalisme membuat pemangku kebijakan kampus tersebut galau. Kepala Humas Unej Agung Purwanto mengatakan, sejak berita itu muncul di media massa, sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya orang tua dan sekolah, mempertanyakan kebenaran berita itu.

Agung menyebut berita itu mendistorsi fakta sesungguhnya. Berita yang dimuat

sejumlah media massa, termasuk beritajatim.com, mengutip pernyataan Kepala Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu (LP3M) Unej Akhmad Taufiq. Dia menyebutkan ada penelitian terhadap 15.567 mahasiswa Unej di 15 fakultas selama 2017-2018. Hasilnya ditemukan 22 persen mahasiswa terpapar radikalisme dalam berbagai tingkatan.
Baca Juga:

Diplomasi dalam Sepiring Tom Yam
Ratusan Petugas KPPS Meninggal, Kelalaian Penyelenggara Pemilu
Bioteknologi Turunkan Kadar Arsenik dalam Air
Polisi Olah TKP Ambruknya Crane Proyek di Universitas Jember
Film Mahasiswa Universitas Jember Tayang di Cinema Mall

Menurut Agung, data itu sebenarnya adalah pemetaan pemikiran keagaaman mahasiswa

dan bersifat internal, bukan untuk dipublikasi. Data itu menjadi dasar bagi Unej untuk melakukan program deradikalisasi di kalangan mahasiswa. Pemberitaan di media massa hanya menyebutkan angka tanpa menyebutkan langkah-langkah deradikalisasi Unej yang menjadi tindak lanjut pemetaan tersebut.

Agung belum tahu seberapa jauh dampak yang bisa memukul Unej setelah pemberitaan itu ramai dan menjadi viral. Yang terang, sebelum berita itu muncul, pada 2019, Unej berada di posisi delapan untuk kampus perguruan tinggi negeri yang paling diminati secara nasional. Agung belum bisa memperkirakan apakah peringkat ini bakal turun karena kekhawatiran orang tua calon mahasiswa dan sekolah-sekolah menengah atas favorit.

Namun secara internal di Unej, dampak yang terasa adalah pelanggaran terhadap standar prosedur operasi (SOP). “Lembaga ini kan ada alur kerjanya, SOP, ketika kita merespons keadaan. Kalau kegiatan itu (pemetaan pemikiran keagamaan mahasiswa) digunakan untuk memperbaiki diri (secara internal) dan kemudian diekspos keluar, muncul kegelisahan dalam organisasi tersebut. LP3M gelisah, karena bagaimana pun ini menyangkut kinerja LP3M. Kinerja LP3M ditantang, dan diberi tugas untuk menyelesaikan. Kalau kemudian diungkapkan ke publik tanpa menyebut langkah-langkah (tindak lanjut) yang sudah dilakukan, itu kan menimbulkan dinamika gejolak dalam organisasi. Belum lagi dari kalangan internal dekanat fakultas yang merasa khawatir dengan animo (publik) tadi,” kata Agung.

 

Baca Juga :