Bimbel Online Milik Kemendikbud Kurang Diminati, Begini Saran PGRI

Bimbel Online Milik Kemendikbud Kurang Diminati, Begini Saran PGRI

Bimbel Online Milik Kemendikbud Kurang Diminati, Begini Saran PGRI

Bimbel Online Milik Kemendikbud Kurang Diminati, Begini Saran PGRI
Bimbel Online Milik Kemendikbud Kurang Diminati, Begini Saran PGRI

Belajar secara virtual tengah menjadi tren di kalangan pelajar di era milenial. Sayang, bimbingan belajar (bimbel) online milik pemerintah bernama Rumah Belajar (RB) kurang populer. Mayoritas lebih memilih berlangganan bimbel online swasta berbayar.

Vachry Irsyad, siswa SMAN 6 Jakarta, mengaku gemar mengunjungi situs bimbel online. Di antaranya, Ruang Guru dan Quipper. “Belajar jadi lebih simpel. Tinggal buka handphone, semua soal dan pembahasan tes ada di situ,” ucapnya.

Namun, Vachry masih mengaksesnya secara gratis. Jadi, belum bisa mengakses konten yang disediakan bagi anggota langganan berbayar.

Bimbel Online Milik Kemendikbud Kurang Diminati, Begini Saran PGRI
Ilustrasi bimbel online (M Oscar Fraby/Radar Banjarmasin/Jawa Pos Group)

Sementara itu, siswa asal Semarang, Ziyad Fikrin Najib,

sudah berlangganan paket box Zenius senilai Rp 725 ribu. Dia mendapat merchandise satu kaus, voucher member selama 12 bulan, serta sebuah CD berisi video pembelajaran, latihan soal dengan format PDF, dan video pembahasan soal.

Fikrin merasa puas dengan konten yang didapat. Menurut dia, Zenius sudah memenuhi kebutuhannya dalam membantu memahami pelajaran.

Dari pernyataan keduanya, tidak dimungkiri bahwa bimbel

online menjadi kebutuhan baru bagi siswa. Meski begitu, saat ditanya tentang bimbel online RB, Vachry dan Fikrin kompak menjawab tidak tahu.

Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia Unifah Rosyidi mengatakan, kurang aktifnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai pengelola RB untuk promosi menjadi akar masalah. Padahal, Unifah memuji konten yang dihadirkan RB jauh lebih lengkap, canggih, dan akses jangkauannya lebih luas daripada bimbel online swasta lainnya.

“Mungkin karena milik pelat merah dan gratis, jadi dinilai biasa saja

. Tidak eksklusif seperti bimbel online swasta yang berbayar,” tutur Unifah. Akibatnya, kurang populer. “Seharusnya lebih berani untuk promosi ke televisi, media sosial, dan menggandeng kerja sama dengan pihak-pihak swasta,” imbuhnya.

 

Sumber :

https://thesrirachacookbook.com/apresasi-adalah/