Umum

Diameter biparietal dan femur

Diameter biparietal dan femur

Penentuan usia kehamilan pada trimester I dapat juga didasarkan pada pengukuran diameter biparietal dan femur, yaitu setelah usia kehamilan 9 minggu, dimana proses osifukasi telah mencakup daerah kepala dan femur.

Komplikasi pada kehamilan trimester I

  1. Perdarahan nidasi

Proses nidasi blastosis kedalam endometrium akan menimbulkan perlukaan pada jaringan endometrium. Kadang-kadang perlukaan tersebut mmenimbulkan perdarahan pervaginam. Perdarahan nidasi tidak dianggap patologik, karena hanya sedikit, berlangsung sebentar, dan tidak berpengaruh buruk terhadap kehamilan. Pada follow-up selanjutnya daerah perdarahan akan menghilang dengan sendirinya, pertumbuhan kantong gestasi dan mudigah akan berjalan normal.

  1. Abortus

Pemeriksaan USG sangat bermanfaat pada kejadian abortus, untuk menilai keadaan mudigah/janin, serta luasnya daerah perdarahan intrauterin. Hal ini penting untuk menentukan prognosis kehamilan selanjutnya.

  1. Kehamilan anembrionik

Kehamilan anembrionik adalah kehamilan patologik, dimana mudigah terbentuk sejak awal. Disamping mudigah, kantong kuning telur juga ikut tidak terbentuk. Kehamilan anembrionik harus dibedakan dari kehamilan muda yang normal, dimana mudigah masih terlalu kecil untuk dapat dideteksi dengan alat USG (biasanya kehamilan 5-6 minggu)

  1. Mola hidatidosa

Pada kehamilan trimester I gambaran mola hidatidosa tidak spesifik, sehingga seringkali sulit dibedakan dari kehamilan anembrionik, missed abortion, abortus inkompletus, atau mioma uteri.

  1. Kehamilan ektopik

Pada kehamilan normal, struktur kantong gestasi intrauterin dapat dideteksi mulai kehamilan 5 minggu,dimana diameternya sudah mencapai 5-10 mm. Bila dihubungkan dengan kadar HCG, pada saat itu kadarnya sudah mencapai 6000-6500 mIU/ml. Dari kenyataan ini dijumpai adanya kantong gestasi intrauterin, maka kemungkinan kehamilan ektopik harus dipikirkan.

POS-POS TERBARU