Etika sebagai Salah Satu Cabang dari Rincian Filsafat Sistematis
Pendidikan

Etika sebagai Salah Satu Cabang dari Rincian Filsafat Sistematis

Etika sebagai Salah Satu Cabang dari Rincian Filsafat Sistematis

Etika sebagai Salah Satu Cabang dari Rincian Filsafat Sistematis

Filsafat lahir dan mulai berkembang ketika manusia merasa kagum terhadap dunia sekelilingnya. Filsafat sebagai suatu rangkaian kegiatan budi manusia pada dasarnya adalah pemikiran reflektif. Pemikiran itu senantiasa bersifat memantul dalam arti menengok diri sendiri. Pemantulan diri itu dilakukan dengan senantiasa bertanya dan mencari jawaban terhadap berbagai masalah yang sangat mencengangkan manusia sejak dahulu sampai sekarang. Budi pikiran itu dicengangkan oleh aneka masalah dan manusia melakukan perenungan untuk menenangkannya agar bebas dari ketidak-tahuan. Kini masalah-masalah yang mencengangkan itu oleh para filsuf disebut persoalan filsafati.

Segenap persoalan filsafati secara sistematis dapat dibedakan menjadi 6 jenis persoalan yang berikut.

  1. METAFISIKA

Istilah metafisika merupakan suatu ciptaan yang belakangan. Sesungguhnya istilah itu menunjuk pada 13 buku-buku Aristoteles sesudah buku-buku yang membahas fisika. Dalam istilah Aristoteles, Umu yang mempelajari hal ada sebagai hal ada dinamakan prote philosophia (artinya filsafat pertama), sedangkan fisika oleh Aristoteles disebut filsafat kedua.

Metafisika yang asal mulanya dalam konsepsi Aristoteles adalah studi tentang hal ada sebagai hal ada (hal ada sebagai demikian) mengalami perubahan yang luas sehubungan dengan objeknya, tekanan maupun peristilahannya. Filsafat ini membahas semua hal ada yang nyata.

Sebagian filsuf kemudian mempertahankan bahwa objek metafisika yang setepatnya ialah kenyataan, keberadaan, dan alam semesta. Dengan demikian, konsep-konsep yang paling pusat dari metafisika di samping hal ada ialah kenyataan, keberadaan, dan alam semesta. Secara tradisional metafisika dicirikan sebagai studi yang paling fundamental, paling komprehensif, dan sepenuhnya kritis terhadap diri sendiri dibandingkan dengan semua studi lainnya. Metafisika bersifat fundamental karena pertanyaan-pertanyaannya mengenai apakah yang ada atau sifat dasar yang sedalam-dalamnya dari hal-hal mendasari semua penyelidikan khusus. Metafisika bersifat komprehensif karena generalitasnya yang sangat umum dan sangkutannya dengan dunia sebagai suatu kenyataan. Metafisika kritis terhadap diri sendiri karena metafisika berlangsung tanpa asumsi-asumsi.

  1. EPISTEMOLOGI

Hampir semua filsuf berpendapat bahwa epistemologi merupakan studi filsafati terhadap pengetahuan, khususnya tentang kemungkinan, asal-mula, validitas, batas, sifat dasar, dan segi-segi pengetahuan lainnya yang berkaitan. Karangan tentang sejarah epistemologi dalam The Encyclopedia of Philosophy, Volume 3 (1967) mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang bersangkutan dengan sifat dasar dan ruang lingkup dari pengetahuan, praanggapan-praanggapan dan dasar-dasarnya, serta reliability umum dari tuntutan akan pengetahuan.

Epistemologi adalah setua filsafat itu sendiri. Plato dapat dikatakan merupakan pencipta yang sesungguhnya dari epistemologi karena ia berusaha membahas pertanyaan dasar, seperti Apakah pengetahuan itu? Di mana pengetahuan pada umumnya diperoleh? Apakah pancaindra memberikan pengetahuan? Dapatkah akal menyediakan pengetahuan?

  1. METODOLOGI

Filsafat modern telah dipenuhi dengan persoalan-persoalan tentang metode. Ini melahirkan suatu cabang baru dalam bidang pengetahuan filsafat sistematis yang dikenal secara luas dewasa ini sebagai metodologi. Cabang filsafat ini menunjuk pada studi filsafat tentang metode pada umnmnya. Maksud dari metode ialah suatu tata cara yang telah dirancang dan dipakai dalam proses memperoleh pengetahuan jenis apa pun, apakah pengetahuan akal sehat, pengetahuan humanistik dan historis, atau pengetahuan filsafati dan ilmiah. Persoalan-persoalan metodologis dapat timbul tidak hanya dalam filsafat, melainkan juga dalam bidang berbagai ilmu. Oleh karena itu, kini metodologi cukup tepat dibedakan menjadi metodologi filsafati dan metodologi ilmiah.

Metodologi filsafati membahas semua persoalan tentang metode-metode filsafat. Hal ini bukan suatu usaha yang mudah dan sederhana karena banyak metode dipakai, dapat dipakai, dan perlu dipakai. Banyak filsuf dewasa ini menyadari bahwa tidak ada metode yang khas bagi filsafat. William James mengatakan bahwa para filsuf dapat mempergunakan sesuatu metode apa pun secara bebas. Karl Popper berpendapat bahwa filsuf-filsuf adalah sebebas yang lainnya untuk mempergunakan metode apa saja dalam mencari kebenaran.

  1. LOGIKA

Bilamana satu pernyataan atau lebih membawa kepada suatu pernyataan baru yang hams diterima apabila pernyataan yang semula diterima, hanya semata-mata karena bentuknya dan bukan isi dari pernyataan semula itu, proses memperoleh pernyataan yang bam itu disebut penyimpulan deduktif. Logika dapat dicirikan sebagai suatu teori tentang penyimpulan deduktif atau suatu cabang filsafat yang bersangkutan dengan aturan-aturan penyimpulan yang sah.

Berhubung dengan perkembangan logika yang luar biasa pada waktu akhir-akhir ini, logika dapat dipelajari demi kepentingan intrinsiknya sendiri atau untuk penerapannya, dalam berbagai bidang intelektual. Logika mempunyai banyak penerapan yang jauh melampaui batas dari sesuatu cabang ilmu tunggal. Patokan-patokan kritisnya mempunyai penerapan dalam sesuatu ilmu yang memakai penyimpulan dan dalam sesuatu bidang yang

 kesimpulan-kesimpulannya hams didukung dengan bukti. Hubungannya dengan cabang-cabang lain dari filsafat sistematis telah menjadi semakin dekat.

  1. ETIKA

Cabang dari filsafat sistematis yang bersangkutan dengan persoalan-persoalan moralitas pada umumnya dinamakan etika. Dua istilah lain yang diterima ialah filsafat moral dan filsafat etis.

  1. ESTETIKA

Ada banyak definisi tentang estetika. Pada ujung yang satu estetika secara tradisional dinyatakan sebagai cabang filsafat yang bersangkutan dengan keindahan dan hal yang indah pada alam dan seni, pada ujung yang lain estetika didefinisikan sebagai cabang filsafat yang bersangkutan dengan analisis konsep-konsep dan pemecahan persoalan-persoalan yang timbul bilamana seseorang merenungkan benda-benda estetis. Selanjutnya, benda-benda estetis mencakup semua benda dari pengalaman estetis. Dari definisi yang banyak itu dapatlah diringkaskan bahwa estetik adalah mata pelajaran filsafati atau malahan studi ilmiah yang bersangkutan dengan salah satu dari hal-hal yang berikut.

  1. Keindahan.
  2. Keindahan dan kejelekan.
  3. Hal yang indah pada alam dan seni.
  4. Hal yang estetis.
  5. Seni.
  6. Cita rasa.
  7. Patokan-patokan seni.
  8. Nilai estetis.
  9. Benda estetis.
  10. Pengalaman estetis.

 Para filsuf akhir-akhir ini tidak lagi membicarakan keindahan semata-mata, melainkan juga membahas seni dengan semua seginya (seperti penciptaan, penghargaan, peranan sosial, dan unsur-unsur seni) dan pengalaman estetis dengan semua implikasinya (seperti sikap estetis, kesadaran estetis, kenikmatan estetis, dan tanggapan estetis). Jadi, filsuf-filsuf dewasa ini tidak hanya sibuk dengan estetika filsafati (khususnya filsafat keindahan), tetapi juga dengan apa yang dinamakan oleh Getorge Dickie dan Monroe Beardsley sebagai estetika ilmiah.

  1. SEJARAH FILSAFAT

Cabang terakhir yang ke-7 dari filsafat sistematis dapat dianggap sebagai pembahasan yang harus menjawab pertanyaan besar “Apa yang telah diyakini orang arif dari masa lampau?” Sejarah filsafat adalah pemeriksaan yang teliti terhadap sistem-sistem filsafat, penafsiran yang kritis dari pemikiran para filsuf terhadap persoalan-persoalan filsafati, dan cerita yang benar mengenai perkembangan filsafat dari masa yang paling awal sampai sekarang.

Sejarah filsafat terdiri dari 3 bagian, yaitu sejarah filsafat menurut pembagian masa, sejarah filsafat dari sesuatu negara (misalnya sejarah filsafat India atau Inggris), dan sejarah cabang-cabang filsafat.

Sejarah filsafat menurut pembagian masa dapat mengikuti beberapa ukuran pembagian. Sebuah pembagian yang terinci dari sejarah filsafat Barat menurut masa adalah sebagai berikut.

  1. Masa dari pemikiran reflektif permulaan.
  2. Masa pra-Sokrates.
  3. Masa Klasik.
  4. Zaman Hellenistik Permulaan.
  5. Abad Kristen Permulaan.
  6. Abad Pertengahan (Zaman Kepercayaan).
  7. Masa Renaisans (Zaman Petualangan).
  8. Abad ke-17 (Zaman Akal).
  9. Abad ke-18 (Zaman Pencerahan).
  10. Abad ke-19 (Zaman Ideologi).
  11. Abad ke-20 (Zaman Analisis).

Sumber:

https://montir.co.id/pengertian-otot-lurik/