Fotografer is My Job

Fotografer is My Job

Fotografer is My Job

Fotografer is My Job
Fotografer is My Job

Cerita ini bisa kita mulai dari langkah pertama

Aku ingin menjadi seorang fotografer professional.mulanya aku kurang tertarik dengan dunia fotografi, tapi saat itu waktu aku pergi ke lamno, disitulah mulanya aku menjadi seorang fotografer. Tapi jangan berpikir dulu fotografer professional, tapi bisa dipikir jadi tukang foto teman-temanku yang seenaknya menyuruh aku memotret mereka.

Saat itu aku bersama rombongan yang cukup aku segani,bagaimana tidak disegani,Cuma aku yang yang baru anak bawang masuk ke rombongan guru-guru di pengajian kami,walaupun mereka guru tapi umur mereka beda sekitar 5 tahunlah sama saya,dari yang pertama nervous jadi kebawa suasana sampai tidak ada istilah antara murid dan guru,betul begitu sobat? Hahahahahaha

 

Sebelum rombongan kami menuju ke lamno

Kami singgah dulu lah di Banda Aceh untuk shalat dhuhur karena kami berangkat pagi maka dhuhurnya kami sampai di Banda Aceh atau tepatnya di Mesjid Raya Baiturrahman. Setelah kami selesai shalat Dhuhur maka disitulah dimulainya aku menjadi seorang fotografer.

 

Mau ceritanya? Yuk kita lanjut!

( Tadikan sambungan ceritanya setelah shalat,setelah salat aku dipangil pula tu sama gurunya sebut saja namanya abdul,saat itu begini dipangginya? )
“Ry?sini!” panggil dia.
“ ada apa?” tanyaku lagi.
“ boleh minta bantuan gak?” dianya malah nanyak lagi.
Ya karena guruku ya terpaksa mau gak mau ya harus bilang ya. Bener gitu bro?
“ boleh,kalau buat tengku apa sih yang ngak!” jawabku dengan lantang.
“ kalau gitu,sini fotoin kami ni!”
“ hah,fotoin tengku?” Tanya ku denga lemas.
“ gak mau ya?” dia nanyak sama aku dengan nada tinggi.
“ ya mau lah,sini kameranya tengku biar aku fotoin!” jawabku dengan agak malas.
Setelah aku foto rombonganku malah rombongan lain yang minta bantuan,ya terpaksalah di fotoin mereka walaupun agak malas.Setelah puas foto-foto malah aku yang gak kebagian foto,ya sudahlah nasib !!! nasib.!!!!

( Tukan bro! apa saya bilang! Masih mau sampai sekarang disuruh-suruh foto sama kawan? Makanya mikir! Hahaha. Sebelum mikir yuk kita lanjut ke cerita berikutnya.masih mau lanjut kan? Yuk buruan dibaca lagi.go!!! )

 

Kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke lamno

, saat perjalanan kami yang terasa sangat jauh tersebut terasa sangat singkat karena kami di sepanjang perjalanan dihibur oleh pemandangan yang sangat menabjubkan apalagi waktu kami sampai ke salah satu jalan yag sangat sulit dilewati yaitu jalan atau rute gunung gurute yang medannya dua kali lipat dari medan selawah tetapi saaat kami di jalan tersebut tidak terasa sulit karena pemandangan yang begitu indah dan aku pun begitu takjub dengan bumi Aceh yang tercinta sehingga aku tidak tersadar mengucapkan kalimat yang begitu bersyukur .

“ Oh,Tuhan ! Begitu indah ciptaan engkau ! ” Gumamku dengan nada yang sangat kecil.
Setelah kami puat disuguhkan pemandangan yang sangat indah oleh rute Gurute,kami pun sampai ke tempat tujuan kami,tapi sangat saying waktu itu aku belum menyukai fotografi sehingga aku di mengabadikan momen indah tersebut..hehehehehehehe
Padahal aku sangat ingin mengabadikan momen tersebut tapi yang harus bagaimana lagi yang berlalu yang biarlah berlalu.

( sudah sampai ya cerita kita,oh ya udah sampai ke lamno,mau tau lanjutannya, kalau bilang gak mau ya harus mau, sebab yang tulis cerita saya,hehehehe,yok kita lanjut! )

Kami pun sampai dilamno,tapi aku cuma mau cerita waktu kami mau pulang aja,karena waktu kami menginab gak akan nyambung dengan judul cerpen saya sobat.

Pas waktu kami pulang kami pun berziarah terlebih dahulu ke makam poe termerhom ,sesampainya di ditu kami harus mendaki dahulu lebih kurang kurang lebih gak tahu berapa jumlah anak tangganya hehehe

Sesampainya diatas pemandangannya subhanallah begitu indahnya bahkan disitu ada satu guci keramat yang air didalam guci tersebut walaupun diambil terus menerus takkan habis airnya.

 

“ Subhanallah,begitu besar kuasa mu Ya Allah” Ucapku dalam hati.

Dan dimulailah aku menjadi fotografer terkenal lagi,aku pun dengan tangkas nya mengambil kamera untuk mengabadikan momen saat mereka menyuruhku untuk memotret mereka. Aku pun saat lelah mengabadikan momen tapi aku juga senang karena dari situlah bias membuat aku menjadi seorang fotografer pemula dan bisa menulis cerpen ini..hehehehe

Setelah puas kami berfoto-foto disitu, kami pun melanjutkan pejalanan untuk kembali ke Matangglumpangdua, dan mobil kami pun melaju dengan kencang seakan akan jalan itu milik kami,

( eiiits,tunggu dulu,kalian pikir cerita udah habis? Jangan stop bacanya karena saya akan melanjutkan ke ziarah makam syiah kuala, dan itu cerita sebelum berkunjung ke yang cerita lain karena masih panjang banget lo cerita belum saat pulang dan resminya aku jadi fotografer. Tapi masih mau bacakan ceritanya,kalau mau yuk kita lanjut,go?)

Sesampainya aku di makam syiah kuala aku pun langsung bergegas turun mobil karena aku sangat ingin melihat makam tokoh islam di Aceh dan sesampainya di depan makam aku langsung jadi sasaran teman aku yang tidak lain tidak bukan hanya untuk menyuruh aku untuk memotret mereka.pada saat itu?
“ Ry? Sini! “ panggil temanku dari jauh.
“ iya ada apa?” jawabku dari kejauhan.
“ bantu aku ya! Pinta temanku

Baca Juga :