Gangguan Sistem Pengindraan Pada Manusia, dan Cara Pengobatannya

Gangguan Sistem Pengindraan Pada Manusia, dan Cara Pengobatannya

Gangguan Sistem Pengindraan Pada Manusia, dan Cara Pengobatannya

Gangguan Sistem Pengindraan Pada Manusia, dan Cara Pengobatannya
Gangguan Sistem Pengindraan Pada Manusia, dan Cara Pengobatannya

Entropion

Entropion adalah berputarnya margo kedalam sehingga bulu mata bersentuhan dengan bola mata. Biasanya terjadi pada kelopak mata bawah, tetapi juga kadang-kadang kelopak mata atas. Jarang dijumpai pada usia dibawah 40 tahun.
Klasifikasi dan Etiologi
1. Entropion kongenital
  • Primer: penyebabnya adalah perkembangan yang berlebihan serabut muskulus orbicularis marginal.
  • Sekunder: biasanya berhubungan dengan anoftalmus, enoftalmus, dan mikroftalmus.
2. Entropion Dapatan
  • Entropion Mekanik. Terjadi pada berbagai umur biasanya menegani paalpebra inferior. Penyebab biasanya enoftalmus, atrofi bulbi, dan kalaazion.
  • Entropion senil. Terjadi pada umur 70-75 tahun, faktor predisposisi antara lain kurangnya lemak orbitra, atrofi dan kurangnya elastisitas kulit palpebra, berkerutnya konjungtiva, dan peradangan menahun konjungtiva.
  • Entropion sikatriks terjadi akibat peradangan konjungtiva dan tarsus kronik seperti takroma, sindrom stephen johnson, trauma termis, energi radiasi, trauma operasi.
  • Entropion spastik. Terjadi akibat peradangan okuler akut dan juga akibat bebat mata yang berlangsung lama.

 Gejala Klinis

Akibat iritasi kronik bulu mata pada kornea menyebabkan terjadinya :
– Lakrimasi
– Foto fabia
– Nyeri
– Vaskularisasi kornea
– Keruhan kornea
– Ulkus kornea

Penatalaksanaan 

1. Terapi non operatif

  • Pemakaian protesa bulu mata yaitu untuk kasus pada mata yang atrofi dan pasca operasi aanulkeasi.
  • Eversi palpebra dengan jalan cat coledicum pada permukaan luar palpebra, plester adhesive yang dilekatkan kepada margo palpebrainferior ke pipi.
  • Evilasi yaitu tindakan mengangkat silia yang menyentuh bola mata.

2. Terapi operatif

  • Entropion Spastik; bila gagal dengan terapi diatas maka dilakukan tindakan operatif antara lain dengan jahitan snellen, teknik author dengan modifikasi.
  • Entropion Senil; jenis operasinya adalah kauterisasi dengan termokauter, modifikasi Ziegler, dan reseksi kulit.
  • Entropion Sikatriks; jenis operasinya adalah horizontal tarsal section, tarsal resection dengan modifikasi, dan eksisi kulit dan otot.

Ektropion

Ektropion adalah suatu keadaan dimana tepi palpebra berputar keluar beserta silianya sehingga permukaan nampak dari luar. Biasanya bilateral dan sering dijumpai pada penderita usia lanjut
Klasifikasi dan Etiologi
Ektropion diklasifikasikan menjadi 6 tipe, yaitu:
  1. Ektropion kongenital : jarang ditemukan
  2. Ektropion dapatan :
  • Ektropion sapastik yaitu ektoprion akibat spasme muskulus orbicularis, keadaan ini sering mengenai anak-anak dan remaja. Penyebab lain adalah iritasi, edema konjungtiva.
  • Ektropion sikartik, jenis ini timbul akibat kontraksi jaringan parut pada tepi palpebra, misalnya; luka bakar, luka kecelakaan atau luka operasi.
  • Ektropion paralitik, ditandai dengan hilangnya tonus otot orbicularis disertai paralisis parsial (parese nervus fasialisis) terjadi akibat morbus Hansen, atau radang.
  • Ektropion mekanik yaitu berputarnya kelopak mata akibat gaya berat, misalnya hipertropi konjungtiva yang timbul.
  • Ektropion senil, keadaan ini timbul sebagai akibat hilangnya tonus dan bertambahnya relaksasi otot orbicularis oculi, sehingga pinggir kelopak terkulai kedepan.

Gejala Klinis  

 
Gejala yang subyektif terdiri dari mata merah, sering keluar air mata (efifora), dan kekeruhan kornea. Gejala yang objektif yaitu pada pemeriksaan infeksi bias dilihat pinggir kelopak mata terbalik kedepan. Konjungtiva nampak kemerahan, menebal dan kering oleh karena iritasi mekanik yang berulang-ulang.
Kelopak mata tidak tertutup sempurna sehingga menyebabkan iritasi pada kornea dan dapat menyebabkan ulkus kornea. Epifora timbul karena adanya eversi punctum lakrimasi.
Penatalaksanaan
1. Terapi Non Operatif
Dilakukan pada kasus yang ringan dan bersifat sementara. Tindakan terapi biasa dilakukan adalah :
  • Pada kasus ektropion spactis, yaitu dengan bebat mata dan tindakan menyeka air mata dari arah bawah keatas.
  • Pada kasus ektropion atonik (senile dan paralitik), yaitu dengan menggunakan electrocauter.
2. Terapi Operatif
Prinsip pembelahan pada ektropion yaitu memendekkan kelopak mata bawah pada arah horizontal. Pada ektropion sikatriks yang disebabkan oleh kontraktur lamella anterior kelopak mata maka diperlukan revisi jaringan perut dan mungkin diperlukan cangkok kulit.

Ptosis

Ptosis adalah jatuhnya kelopak mata bagian atas dalam keadaan mata terbuka sehingga celah kelopak mata menjadi sempit dan lipatan menghilang.
Palpebra merupakan lipatan jaringan yang mudah digerakkan. Merupakan bagian yang paling tipis, longgar dan lentur dari semua kulit pada tubuh serta berfungsi melindungi mata. Dalam keadaan normal lebar fissura interpalpebralis adalah 8-10 mm, sedangkan kelopak mata atas menutupi kornea sekitar 1-2 mm.
Kelopak mata mempunyai fungsi untuk perlindungan terhadap rudapaksa dan benda asing, melindungi terhadap cahaya yang menyilaukan, serta menyebarkan mata.
Klasifikasi dan Etiologi 
1. Ptosis kongenital
Umumnya terjadi bilateral, bila akibat gangguan perkembangan otot levator dan disfungsi saraf okumulatoris di daerah nukleus nervus III. Kasusnya tidak berat dan tidak ada gangguan penglihatan.

2. Ptosis dapatan

  • Ptosis mekanik. Terjadi akibat gaya berat palpebra superior sehingga sulit untuk diangkat, misalnya pada keadaan seperti edema palpebra, hematom, dan tumor.
  • Ptosis miogenik. Akibat kelainan atau gangguan pada otot palpebra dan biasanya bilateral serta sering pada penderita usia lanjut.
  • Ptosis neurogenik. Akibat parese atau paralisis nervus III.
  • Ptosis traumatik. Merupakan kombinasi dari ptosis neurogenik, miogenik, dan mekanik,
  • Ptosis aponeurotik. Pencabutan silia yang terlibat, insisi kulit secara horizontal, diberikan salep mata yang mengandung antibiotik dan multivitamin.

Baca juga: