Pendidikan

  Hadîts Nabawîy

  Hadîts Nabawîy

Hadîts Nabawîy adalah Apa yang dinisbahkan kepada Rasulullah dan diriwayatkan dari beliau.[[18]] Jadi Hadîts Nabawîy adalah segala Hadîts Nabi yang dipahami secara umum yang bukan Hadîts Qudsîy. Maka ketika kita telah dapat mengetahui sesuatu hadîts adalah bukan Hadîts Qudsîy, secara otomatis yang demikian adalah Hadîts Nabawiy.

  1. Berdasarkan Jumlah Periwayat
  2.  Hadîts Mutawâtir
  3. Defenisi Hadîts Mutawâtir

Secara Bahasa Mutawâtir merupakan ism fa’il musytaq dari التواتر berarti  التتابع(berturut-turut/lebat).[[19]]

Sedangkan secara istilah terdapat beberapa defenisi yang diberikan ulama, di antaranya:  Menurut Nuruddîn  Itr Hadîts Mutawâtir adalah:

هوالذى رواه جمع كثير يؤمن تواطؤهم على الكذب عن مثلهم, الى انتهاء السند وكان مستندهم الحس[[20]]

“Hadîts mutawâtir adalah hadîts yang diriwayatkan oleh perawi yang banyak yang diyakini tidak akan sepakat berbuat dusta dari perawi yang semisalnya, dari awal sanad hingga akhirnya. Yang periwayatannya disandarkan kepada pengamatan indrawi”

Sedangkan ‘Ajjaj al-Khâtib mendefenisikan Hadîts Mutawâtir seperti berikut ini:

 ما رواه جمع تحيل العادة تواطؤهم على الكذب عن مثلهم من اول السند الى منتهاه على ان لا يختل هذا الجمع في اي طبقة من طبقة السند [[21]]

Hadîts yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi yang secara tradisi tidak mungkin mereka sepakat untuk berdusta dari sejumlah perawi yang sepadan dari awal sanad sampai akhirnya, dengan syarat jumlah itu tidak kurang pada tiap tingkatan sanadnya ”

Dari defenisi-defenisi di atas dapat ditarik beberapa syarat sebuah hadîts dikatakan Mutawâtir yaitu:

1)      Hadîts tersebut pada setiap tingkatan sanadnya diriwayatkan oleh periwayat yang banyak dari awal hingga akhir.

2)      Kondisi mereka tidak mungkin akan berdusta, seperti semua mereka bukan orang satu keluarga.

3)      Hendaklah keyakinan mereka didasarkan kepada sesuatu yang dapat diterima panca indra, atau hadîts tersebut menyangkut dengan nabi yang bisa ditangkap secara indrawi. Seperti sikap dan perbuatan Nabi yang dapat dilihat atau perkataan beliau yang dapat didengar.

4)      Hendak perawi yang meriwayatkan hadîts tersebut meyakini keabsahanhadîts tersebut (bukan berasal dari dugaan)[[22]]

  1. Pembagian Hadîts Mutawâtir

Ulama Hadîts membagi Hadîts Mutawâtir menjadi tiga yaitu Hadîts Mutawâtir LafzhîyHadîts Mutawâtir Ma’nâwîy, dan Hadits Mutawatir Amaliy.

1)      Hadîts Mutawâtir Lafzhîy 

Hadîts Mutawâtir Lafzhîy adalah  Hadîts yang periwayatannya  Mutawâtir dengan lafadz yang sama oleh seluruh perawi.[[23]] Ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh ‘Ajjâj al-Khâtib, seperti berikut ini

ما رواه بلفظه جمع عن جمع عن جمع لا يتوهم تواطؤهم على الكذب من اول السند الى منتهاه[[24]]

Hadîts yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi dari sejumlah perawi, dari sejumlah perawi,  dengan lafaz yang sama, -yang tidak dimungkinkan mereka sepakat untuk berdusta- dari awal hingga akhir sanad”

Muhadditsin memberikan pengertian hadits Mutawatir lafdzi adalah suatu (hadits) yang sama (mufakat) bunyi lafadh para rawi padanya, dan demikian juga pada hukum dan maknanya

sumber :