Pendidikan

 Harapan dan Tantangan Pengembangan Mekanisme Pertanian ke

 Harapan dan Tantangan Pengembangan Mekanisme Pertanian ke

Depan

Alih teknologi mekanisasi pertanian telah berjalan di Indonesia dengan didahului fase material transfer, dimana seluruh bentuk baik teknologi dan pengetahuan diterapkan seperti yang berlaku di negara asal, namun fase ini tidak memberikan hasil pengetahuan  kecuali pengalaman berhadapan dengan teknologi modern pada zaman itu. Fase tersebut kemudian dilanjutkan dengan penyesuaian penyesuaian yang diadop melalui design transfer dimana konsep, metodologi dan sistem sebagian besar masih tetap menggunakan asli negara asal, hanya dilakukan penyesuaian dalam skala ekonominya.

Yang terakhir, dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta informasi yang makin maju, secara bertahap, proses alih teknologi mekanisasi di Indonesia mencapai tahap capacity transfer. Pada fase ini, perencanaan, pengembangan dan perluasan mekanisasi pertanian dicoba dilakukan sesuai dengan kemampuan adaptasi dan adopsi yang melibatkan lingkungan sosial ekonomi.

Agar mekanisasi pertanian dapat berkembang dengan baik, maka adopsi teknologi yang dilakukan harus tepat. Artinya, teknologi yang diadopsi dari pihak luar harus dimodifikasi dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat Indonesia agar teknologi tersebut dapat diterima dan dimanfaatkan dengan baik.

2.4    Aeroponik Sebagai Salah Satu Bentuk Mekanisasi Petanian

Aeroponik merupakan suatu cara bercocok tanam sayuran diudara tanpa penggunaan tanah, nutrisi disemprotkan pada akar tanaman, air yang berisi larutan hara disemburkan dalam bentuk kabut hingga mengenai akar tanaman. Akar tanaman yang ditanam menggantung akan menyerap larutan hara tersebut. Air dan nutrisi disemprotkan menggunakan irigasi sprinkler.

Sayuran hasil budidaya dengan sistem aeroponik terbukti mempunyai kualitas yang baik, higienis, sehat, segar, renyah, beraroma, dan disertai citarasa yang tinggi. Sayuran aeroponik dapat mengisi peluang kebutuhan tingkat masyarakat menengah ke atas. Oleh karena itu, sistem aeroponik mulai banyak dikembangkan di Indonesia.

Aeroponik berasal dari kata aero yang berarti udara dan ponus yang berarti daya. Jadi aeroponik adalah memberdayakan udara. Sebenarnya aeroponik merupakan suatu tipe hidroponik (memberdayaakan air) karena air yang berisi larutan hara disemburkan dalam bentuk kabut hingga mengenai akar tanaman. Akar tanaman yang ditanam menggantung akan menyerap larutan hara tersebut.

Manfaat

Sistem aeroponik dapat memberikan manfaat bagi petani yang tidak mempunyai lahan, karena aeroponik tidak membutuhkan tanah, tetapi media tanam yang berupa Styrofoam yang akarnya menggantung di udara. Sehingga bisa dijadikan sebagai lahan di pekarangan rumah.

Prinsip dari aeroponik adalah sebagai berikut: Helaian Styrofoam diberi lubang-lubang tanam dengan jarak 15 cm. dengan menggunakan ganjal busa atau rockwool, anak semai sayuran ditancapkan pada lubang tanam tersebut. Akar tanaman akan menjuntai bebas ke bawah. Di bawah helaian Styrofoam, terdapat sprinkler (pengabut) yang memancarkan kabut larutan hara ke atas hingga mengenai akar.

Salah satu kunci keunggulan budidaya aeroponik ialah oksigenasi dari tiap butiran kabut halus larutan hara yang sampai ke akar. Selama perjalanan dari lubang sprinkler hingga sampai ke akar, butiran akan menambat oksigen dari udara hingga kadar oksigen terlarut dalam butiran meningkat. Dengan demikian proses respirasi pada akar dapat berlangsung lancar dan menghasilkan banyak energi. Selain itu dengan pengelolaan yang terampil, produksi dengan sistem aeroponik dapat memenuhi kualitas, kuantitas dan kontinuitas.

Sumber :

https://solidaritymagazine.org/google-pixel-2-dan-pixel-2-xl-unggulkan-kamera-pixel-ganda/