Hukum Meninggalkan Salat

Hukum Meninggalkan Salat

Hukum Meninggalkan Salat

 

Hukum Meninggalkan Salat
Hukum Meninggalkan Salat

Tidak diragukan lagi, baraang siapa mengingkari kewajiban shalat yaitu kafir, meskipun beliau sudah mengerjakannya dengan berjamaah. kecuali orang yang gres masuk Islam dan tidak mengetahui syi’ar-syi’arnya, orang menyerupai ini dimaafkan oleh Allah sebab kebodohannya. Sedangkan orang yang sudah mengetahui syi’ar-syi’arnya dan mengingkari eksistensi kewajiban shalat maka termasuk orang yang mendustakan Allah. Hal ini sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an dalam surah An-nisa ayat 103, Allah berfirman :
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
“Maka apabila engkau sudah menuntaskan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila engkau sudah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu yaitu fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang diberiman.”
Dari ayat tersebut diatas maka sudah terperinci bahwa sanya shalat sudah ada ketentuan-ketentuan dalam melaksanakan sholat. Apabila seseorang meninggalkan shalat karena meremehkan, namun dalam hatinya masih mengakui kewajiban itu, maka dalam hal ini para ulama berselisih pendapat

Pendapat Pertama

Sebagian ulama beropini :”Orang yang meninggalkan shalat sebab perilaku menganggap remeh yaitu kafir, sebab As-sunnah dan zhahir Al-Qur’an sudah menegaskan hal itu . Dan sudah maklum apabila kitab Al-Qur’an dan sunnah sudah menetapkan sesuatu maka wajib hukumnya diikuti.
Pendapat ulama diatas yang menyampaikan bahwa orang yang meninggalkan shalat yaitu kafir, melahirkan beberapa konsekwensi aturan diataranya :

Nikah fasakh

Sebagaiamana firman Allah dalam surah al-Mumtahah ayat 10 :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ ۖ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ ۖ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ ۖ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ ۖ وَآتُوهُمْ مَا أَنْفَقُوا ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ ۚ وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ وَاسْأَلُوا مَا أَنْفَقْتُمْ وَلْيَسْأَلُوا مَا أَنْفَقُوا ۚ ذَٰلِكُمْ حُكْمُ اللَّهِ ۖ يَحْكُمُ بَيْنَكُمْ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Hai orang-orang yang diberiman, apabila hadir berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang diberiman, maka hendaklah engkau uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui wacana keimanan mereka; maka jikalau engkau sudah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) diberiman maka tidakbolehlah engkau kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan diberikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang sudah mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila engkau bayar kepada mereka maharnya. Dan tidakbolehlah engkau tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah engkau minta mahar yang sudah engkau bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang sudah mereka bayar. Demikianlah aturan Allah yang diputuskan-Nya di antara engkau. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Apabila beliau meninggal maka tidak sanggup mewariskan

Karena Rasulullah saw., bersabda :

لا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الكَافِرَ، ولا يَرِثُ الكَافِرُ الْمُسْلِمَ
Artinya, “Orang muslim tidak sanggup wewarisi orang kafir (begitu juga sebaliknya) orang kafir tidak sanggup mewarisi orang muslim,” (HR Bukhari dan Muslim).

Hak kewaliannya secara syariat sudah gugur dan batal

sebab itu beliau tidak sanggup berkeluargakan anaknya, tidak menjadi wali bagi anak-anaknya dan hak-hak kewajiban yang lain. Hal ini menurut firman Allah swt :
وَلَنْ يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلًا
….dan Allah sekali-kali tidak mempersembahkan jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang diberiman” (Q.S.an-Nisa ayat 141)
Sudah maklum bahwa kewalian itu yaitu ialah suatu jalan untuk menghaalalkan sedangkan orang yang kafir tidak sekali-kali didiberikan jalan oleh Allah

Baca Juga: Rukun Islam

Bila mereka mati tidak dimandikan, tidak dikafani, tidak dishalatkan dan tidak sanggup mewariskan

Hal ini Allah swt sudah berfirman :
وَلا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُواوَهُمْ َفاسِقُون
Dan tidakbolehlah engkau sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan tidakbolehlah engkau bangun (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka sudah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (QS. al-Taubah, ayat 84)
Dari bubuk Huraerah juga meriwayatkan dalam haditnya :

ومن ترك الصلاة فقد كفر ، ليس من الأعمال شيء يركه كفر إلا الصلاة ، من تركها فهو كافر ، وقد أحل الله قتله

“Barang siapa yang meninggalkan sholat maka beliau sudah kafir, dan tidak ada suatu amalanpun yang apabila meninggalkannya maka pelakunya menjadi kafir kecuali sholat. Maka barang siapa yang mening”. hasil sembelihannya tidak halal untuk dimakan, sebab statusnya sebagai kafir.

Pendapat kedua

Sebagian ulama beropini :”Dia tidak dihukumi sebagai kafir” diantaranya mereka pun berselisih pendapat, “Apakah orang ini wajib dibunuh atau tidak?

a). Sebagian mereka berpendapat, “dia harus dibunuh tapi pembunuhan itu sebagai had (hukum sebab melanggar suatu ketetapan syari’at)”.
Pendapat diatas menyampaikan bahwa orang yang meninggalkan shalat harus dibunuh sebab dianggap sudah murtad (keluar dari Islam). Pendapat ini yaitu pendapat Imam Ahmad, Sa’id bin Jubair, ‘Amir Asy Sya’bi, Ibrohim An Nakho’i, Abu ‘Amr, Al Auza’i, Ayyub As Sakhtiyani, ‘Abdullah bin Al Mubarrok, Ishaq bin Rohuwyah, ‘Abdul Malik bin Habib (ulama Malikiyyah)
b). Adapula yang berpendapat, “Dia tidak dibunuh tetapi beliau dijatuhi sanksi”.
c). Mengatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat sebab malas-malasan yaitu fasiq (sudah berbuat dosa besar) dan beliau harus dipenjara hingga beliau mau menunaikan shalat. INI pendapat Hanafiyyah. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah,)
Ulama-ulama yang mengkafirkan terhadap orang yang meninggalkan sholat berhujjah dengan beberapa hadits sebagai diberikut :
Hadits dari Jabir, katanya Rasulullah saw., bersabda :
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ
“Batas antara seseorang dengan kafir dan syirik yaitu meninggalkan shalat”
Makara hakikatnya kafir yaitu mengeluarkan dirinya dari agama Islam. Hal ini juga ditegaskan oleh Saidina Umar ra :
لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ
”Tidaklah disebut muslim bagi orang yang meninggalkan shalat.”

بَيْنَ العَبْدِ وَبَيْنَ الكُفْرِ وَالإِيْمَانِ الصَّلَاةُ فَإِذَا تَرَكَهَا فَقَدْ أَشْرَكَ
“Pemisah Antara seorang hamba dengan kekufuran dan keimanan yaitu shalat. Apabila beliau meninggalkannya, maka beliau melaksanakan kesyirikan.” (HR. Ath Thobariy dengan sanad shohih. Syaikh Al Albani menyampaikan hadits ini shohih.).