Pendidikan

JENIS JENIS PERBUATAN PIDANA

JENIS JENIS PERBUATAN PIDANA

Di bawah ini akan disebut berbagai pembagian jenis delik :

  1. Kejahatan dan Pelanggaran

Pembagian delik atas kejahatan dan pelanggaran ini disebut oleh undang-undang. Tetapi ilmu pengetahuan mencari secara intensif ukuran (kriterium) untuk membedakan kedua jenis delik itu. Ada dua pendapat :

  1. Ada yang mengatakan bahwa antara kedua jenis delik itu ada perbedaan yang bersifat kwalitatif. Dengan ukuran ini lalu didapati 2 jenis delik[13], ialah :

1)      Rechtdelicten yaitu perbuatan yang bertentangan dengan keadilan, terlepas apakah perbuatan itu diancam pidana dalam suatu undang-undang atau tidak. Maksudnya yaitu tindakan yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat  bertentangan dengan keadilan, contohnya: pembunuhan, pencurian. Delik-delik semacam ini disebut “kejahatan” (mala perse).

2)      Wetsdelicten yaitu perbuatan yang oleh umum baru disadari sebagai tindak pidana karena undang-undang menyebutnya sebagai delik. Jadi perbuatan itu disebut pidana karena ada undang-undang mengancamnya dengan pidana. Misal : memarkir mobil di sebelah kanan jalan (mala quia prohibita). Delik-delik semacam ini disebut “pelanggaran”.

  1. Ada yang mengatakan bahwa antara kedua jenis delik itu ada perbedaan yang bersifat kwantitatif. Pendirian ini hanya meletakkan kriterium pada perbedaan yang dilihat dari segi kriminologi, yaitu “pelanggaran” itu lebih ringan dari pada “kejahatan”.

Mengenai pembagian delik dalam kejahatan dan pelanggaran itu terdapat suara-suara yang menentang. Seminar Hukum Nasional 1963 berpendapat, bahwa penggolongan-penggolongan dalam dua macam delik itu harus ditiadakan.[14]

  1. Delik formil dan delik materiil (delik dengan perumusan secara formil dan delik dengan perumusan secara materil).[15]

Delik formil itu adalah delik yang perumusannya dititik beratkan kepada perbuatan yang dilarang. Delik tersebut telah selesai dengan dilakukannya perbuatan seperti tercantum dalam rumusan delik.    Misal : penghasutan (pasal 160 KUHP), di muka umum menyatakan perasaan kebencian, permusuhan atau penghinaan kepada salah satu atau lebih golongan rakyat di Indonesia (pasal 156 KUHP); penyuapan (pasal 209, 210 KUHP); sumpah palsu (pasal 242 KUHP); pemalsuan surat (pasal 263 KUHP); pencurian (pasal 362 KUHP).

Delik materiil adalah delik yang perumusannya dititik beratkan kepada akibat yang tidak dikehendaki  (dilarang). Delik ini baru selesai apabila akibat yang tidak dikehendaki itu telah terjadi. Kalau belum maka paling banyak hanya ada percobaan. Misal : pembakaran (pasal 187 KUHP), penipuan (pasal 378 KUHP), pembunuhan (pasal 338 KUHP). Batas antara delik formil dan materiil tidak tajam misalnya pasal 362.

  1. Delik commisionis, delik ommisionis dan delik commisionis per ommisionen commissa
  2. Delik commisionis : delik yang berupa pelanggaran terhadap larangan, yaitu berbuat sesuatu yang dilarang, pencurian, penggelapan, penipuan.
  3. Delik ommisionis : delik yang berupa pelanggaran terhadap perintah, yaitu tidak melakukan sesuatu yang diperintahkan / yang diharuskan. Contohnya: tidak menghadap sebagai saksi di muka pengadilan (pasal 522 KUHP), tidak menolong orang yang memerlukan pertolongan (pasal 531 KUHP).
  4. Delik commisionis per ommisionen commissa : delik yang berupa pelanggaran larangan (dus delik commissionis), akan tetapi dapat dilakukan dengan cara tidak berbuat. Contohnya: seorang ibu yang membunuh anaknya dengan tidak memberi air susu (pasal 338, 340 KUHP), seorang penjaga wissel yang menyebabkan kecelakaan kereta api dengan sengaja tidak memindahkan wissel (pasal 194 KUHP).
  5. Delik dolus (kesengajaan) dan delik culpa (ketidak sengajaan) atau (doleuse en culpose delicten).
  6. Delik dolus (disebut juga opzettelijke delicten) yaitu delik yang memuat unsur kesengajaan. Maksudnya delik-delik tersebut oleh undang-undang diisyaratkan dilakukan dengan sengaja.
  7. Delik culpa : delik yang memuat kealpaan sebagai salah satu unsur. Maksudnya delik-delik tersebut cukup terjadi dengan ketidak sengajaan agar pelakunya dapat dihukum.
  8. Delik tunggal dan delik berangkai (enkelvoudige en samenge-stelde delicten) atau dalam istilah lain zelfstandige en voortgezette delicten.
  9. Delik tunggal aatau delik yang berdiri sendiri : delik yang cukup dilakukan dengan perbuatan satu kali.
  10. Delik berangkai : delik yang baru merupakan delik, apabila dilakukan beberapa kali perbuatan.
  11. Delik delik selesai dan berlangsung terus (aflopende en voordurende delicten) dalam istilah lain enkevoudege en samengestelde delicten.
  12. Delik selesai yaitu delik yang pelakunya telah dapat dihukum dengan satu kali saja melakukan tindakan yang dilarang.
  13. Delik yang berlangsung terus yaitu delik yang mempunyai ciri bahwa keadaan terlarang itu berlangsung terus atau berulang kali melakukannya. Contohnya  merampas kemerdekaan seseorang (pasal 333 KUHP).
  14. Delik aduan dan delik laporan (klachtdelicten en niet klacht delicten)

Delik aduan : delik yang penuntutannya hanya dilakukan apabila ada pengaduan dari pihak yang terkena (gelaedeerde partij) misal : penghinaan (pasal 310 dst. jo 319 KUHP) perzinahan (pasal 284 KUHP), chantage (pemerasan dengan ancaman pencemaran, ps. 335 ayat 1 sub 2 KUHP jo. ayat 2). Delik aduan dibedakan menurut sifatnya, sebagai :

  1. Delik aduan yang absolut, yaitu delik-delik ini menurut sifatnya hanya dapat dituntut berdasarkan pengaduan. Delik ini cukup apabila pengadu menyebutkan peristiwanya saja.
  2. Delik aduan yang relative yaitu dimana pengaduan hanyalah suatu syarat untuk dapat menuntut pelakunya. Pada delik ini apabila terjadi hubungan khusus antar pengadu dengan yang diadukan, contohnya pidana antara suami istri seperti pencurian harta suami. Pada delik ini juga harus disebutkan orang yang dia duga telah melakukan pidana.

Perlu dibedakan antara aduan, gugatan dan laporan. Gugatan dipakai dalam acara perdata, misal : A menggugat B di muka pengadilan, karena B tidak membayar hutangnya kepada A. Sedangkan laporan hanya pemberitahuan belaka tentang adanya sesuatu tindak pidana kepada Polisi atau Jaksa.

  1. Delicten communia en delicten propria.

Delicten communia yaitu tindakan delik yang dapat dilakukan oleh semua orang. Sedangkan delicten propria adalah tindakan delik yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu, contohnya delik oleh pegawai negri, atau anggota militer.

  1. Delik sederhana dan delik yang ada pemberatannya / peringannya (eenvoudige dan gequalificeerde / geprevisilierde delicten).
  2. Delik sederhana yaitu delik dalam bentuk-bentuk pokok seperti yang dirumuskan oleh pembentuk undang-undang. Contohnya pembunuhan menurut undang-undang dipenjara selama-lamanya 15 tahun.
  3. Delik yang ada pemberatannya adalah delik dalam bentuk pokok, yang di dalamnya terdapat keadaan yang memberatkan. Contohnya pembunuhan terencana yang ancamannya diperberat dengan ancaman seumur hidup.
  4. Delik yang ada peringanannya adalah delik dalam bentuk pokok yang di dalamnya terdapat keadaan yang meringankannya. Contohnya pembunuhan bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya sendiri karena takut diketahui telah melahirkan seorag anak, dengan ancaman pidana selama-lamanya 7 tahun penjara.

sumber :

https://www.lesotakus.com/peanuts-apk/