Uncategorized

Konsepsi Birokrasi

Konsepsi Birokrasi

Birokrasi merupakan organisasi berskala besar yang merupakan mesin penggerak mesin pemerintahan. Secara struktur dan fungsi kelembagaan dalam pemerintahan, birokrasi merupakan suatu keharusan (It’s a must). Kata birokrasi ditemukan oleh Monsier de Gournay pada tahun 1975. Dari sudut bahasa, birokrasi berasal dari kata “Biro” (Bureau) yang berarti kantor ataupun dinas dan kata “Krasi” (cracy, kratie) yang berarti pemerintahan. Dengan demikian, dari sudut ini birokrasi berarti dinas pemerintahan. Sementara dalam kamus politik, birokrasi memiliki aneka pengertian dan ragam catatan, antara lain pertama, birokrasi adalah sistem pemerintahan yang dijalankan oleh makan pegawai pemerintah karena telah berpegang pada hirarki dan jenjang jabatan. Kedua, birokrasi merupakan cara bekerja atau susunan pekerjaan yang serba lamban, serta menurut tata aturan (adat dan sebagainya) yang banyak liku-likunya. Dan ketiga, birokrasi sering melupakan tujuan pemerintah yang sejati, karena terlalu mementingkan cara dan bentuk.

Berkaitan dengan pengertian dan posisi birokrasi dalam kepentingan negara, Greenberg, seperti dikutip Arief Budiman, menuturkan bahwa birokrasi itu netral dan hanya mengikuti aturan yang sudah ada. Para birokrat sekadar merupakan mesin negara. Hanya saja dalam praktiknya birokrasi memiliki kekuatan dan kemandiriannya sendiri, yang bisa memengaruhi kebijakan sebuah organisasi, termasuk organisasi yang bernama negara.

Dalam kaitan ini, Greenberg mengatakan :

“konsep pejabat birokrasi sebagai embuat kebijakan dan aktor yang memiliki semacam kemandirian sendiri pada saat ini sudah banyak dibahas dalam kepustakaan. Ara ahli yang menekankan pentingnya negara….tampaknya secara khusus telah mencurahkan perhatiannya terhadap kesanggupan negara dalam hubungannya dengan besarnya dan kualitas dari aparat birokrasinya.

Kekuatan dan kemandirian aparat birokrasi negara, menurut Arief Budiman, mungkin dapat dijelaskan lebih apabila kita mengamati kembali teori birokrasi dari max weber. Dalam konteks ini, weber menyebutkan bahwa disampingkan tenaga administrasi, kantor harus dipimpin oleh poliyikus yang bisa mengambil keputuan berdasarkan kebijakan. Karena itu, dalam negara itu sesungguhnya terdapat dua unsur ; tenaga administrasi dan politisi yang berbeda dipuncak pimpinan tertinggi sebuah organisasi atau departemen. Tenaga administrasi adalah posisi tekhnis karena itu jabatan ini diduduki oleh orang-orang yang menduduki puncak pimpinan tertingi sebuah departemen merupakan jabatan politis, karena menyangkut kebijakan. Karena itu, pejabat yang menduduki jabatan ini diangkat melalui sebuah proses politik seperti pemilihan. Semua ini tampaknya diajdikan satu oleh Greenburg dengan nama aparat birokrasi atau pemerintahan.

2.2.Karakteristik Birokrasi

Terlepas dari kaitan di atas, Max Weber telah mendeskripsikan sejumlah karakteristik birokrasi dari perspektif tipe ideal (tipologik), antara lain sebagai berikut.[1]

  1. Birokrasi menekankan pembagian kerja dengan spesialisasi peranan yang jelas. Pembagian kerja yang jelas dan terinci ini akan membukakan kesempatan untuk hanya merekrut ara pegawai yang ahli dalam bidangnya dan memungkinkan tiap-tiap pegawai sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam dalam pelaksanaan tugasnya.
  2. Birokrasi atau organisasi jabatan ini mengikuti prinsip hierarki kontrol. Artinya jabatan yang lebih rendah berada dalam kontrol dan pengawasan jabatan yang lebih tinggi. Setiap pejabat dalam hierarki administrasi ini mempertanggungjawabkan kepada atasannya tidak saja setiap keputusan dan tindakan yang diambilnya sendiri tetapi setiap keputusan dan tindakannya yang diambil oleh bawahannya.
  3. Kegiatan birokrasi ini dilakukan berdasarkan sistem aturan abstrak yang konsisten dan terdiri atas penerapan aturan-aturan ini ke dalam kasus-kasus yang khusus. Sistem standar ini dibuat untuk menjamin keseragamman tidak hanya dalam pelaksanaan setiap tugas, terlepas dari berapa pun jumlah orang yang terlibat didalamnya, tetapi juga dalam koordinasi berbagai tugas.
  4. Organisasi jabatan ini menekankan keharusan untuk dapat bekerja dengan penuh dan diiringi dengan penerimaan gaji. Setiap hierarki pekerjaan tertentu memiliki tingkat gaji yang jelas dan tetap. Dengan itu, setiap individu dituntut untuk bisa mengembangkan karya dan karirnya dalam organisasi tersebut.
  5. Organisasi ini memungkinkan adanya ruang bagi promosi jabatan atau perjenjangan karier didasarkan pada kemampuan, senioritas dan campuran di antara keduanya. Dapat dikatakan sebagai promosi kerja melalui merit sistem.
  6. Organisasi administrasi yang bertipe birokratis dari segi pandangan teknis murni cenderung lebih mampu mencapai tingkat efisiensi yang lebih tinggi. Oleh karena itu, birokrasi mengatasi masalah unik organisasi. Artinya memaksimalkan koordinasi dan pengendalian sehingga tidak hanya efisisensi organisasi yang tercapai, tetapi juga efisiensi produktif sebagai personal pegawai.

sumber :

https://9apps.id/