Pemanfaatan Virtual Reality untuk Pembelajaran di SMK

Pemanfaatan Virtual Reality untuk Pembelajaran di SMK

 

Pemanfaatan Virtual Reality untuk Pembelajaran di SMK

Virtual Reality

Startup rintisan Telkom kembangkan bisnis Virtual Reality (VR) sebagai media pembelajaran di Sekolah Menangah Kejuruan (SMK). dengan VR, siswa bisa melakukan simulasi terkait di bidang kerjanya secara lebih spesifik. Jurusan yang berpotensi dilakukan uji coba antara lain teknik mesin/otomotif, sipil/bangunan, dan arsitektur/desa interior.

Chief Technical Officer (CTO) SmartEye, Fahmi Ramadani mengatakan, versi beta VR yang dikembangkan pihaknya ditargetkan dapat diujicoba di beberapa SMK di wilayah Jabodetabek pada pertengahan 2019 mendatang. Penggunaan VR memungkinkan siswa jurusan teknik dapat melihat mesin dari berbagai sudu pandang serta dapat memutar mesin di udara dengan zoom in dan zoom out.

Karena ini Virtual Reality

“Karena ini Virtual Reality, kemungkinan pengembangan kontennya hampir tidak terbatas. Yang perlu dan akan kami lakukan saat ini adalah berdiskusi dengan pihak-pihak terkait terutama dari bidang pendidikan mengenai bentuk apa yang paling dibutuhkan dalam penggunaan VR dan bisa diterima oleh pelajar,” tuturnya dilansir psmk.kemendikbud.

Dibandingkan dengan pengadaan alat praktikum yang menelan biaya cukup besar, pemanfaatan VR dapat menawarkan konten yang bisa diduplikat dan digunakan sekaligus, sehingga lebih efisien.

“Di SMK otomotif, mesin yg harus dipelajari ada banyak. Kalau semua SMK harus membeli semua enis mesin tersebut, biayanya akan mahal sekali,” tambahnya.

Untuk jenis VR

Untuk jenis VR headset yang digunakan, kebetulan tahun 2019 produsen headset Oculus akan luncurkan produk barunya, Oculus Quest. Kita menargetkan untuk memakai Oculus Quest tersebut, di samping headset Oculus Go yang sekarang sudah ada di pasaran,” ujar Fahmi.

Dalam pembuatannya, tools software yang digunakan adalah Unity Engine

Sementara hardwarenya menggunakan Oculus Go, Oculus Rift, dan Leap Motion sensor. Fahmi mengemukakan, untuk skema pembiayaannya, SmartEye berupaya menekan cost di setiap SMK sekecil mungkin.

“Saat ini kami sedang mengupayakan pembiayaan dari berbagai sumber. Porsi biaya terbesar itu ada di pembuatan konten-konten edukasinya,” katanya.

 

Sumber: https://pengajar.co.id/