Agama

PEMBAHASAN TALFIQ

PEMBAHASAN TALFIQ

PEMBAHASAN TALFIQ

Pengertian Talfiq

Secara lughowi kata talfik bersal dari lakafa yalfiku yang artinya bertemu dua tepi. Namun yang dihendaki secara istilah ialah : “ mengamalkan suatu faru’ yang zhani menurut kentuan dua madhab atau lebih.( Hamdani Yusuf, 1986, Perbandingan Madhab:38).

Menurut istilah, talfiq ialah: mengambil atau mengikuti hukum dari suatu peristiwa atau kejadian dengan mengambilnya dari berbagai macam mazhab. Pada dasarnya talfiq ini dibolehkan oleh agama, selama tujuan melaksanakan talfiq itu semata-mata untuk melaksanakan pendapat yang paling benar dalam arti setelah meneliti dasar hukum dari pendapat-pendapat itu dan mengambil apa yang dianggap lebih kuat dasar hukumnya. Tetapi ada talfiq yang tujuannya untuk mencari yang ringan-ringan saja dengan arti bahwa yang diikuti adalah pendapat yang paling murah dikerjakan, sekalipun dasar hukumnya lemah. Talfiq yang seperti inilah yang dicela para ulama.

Jadi talfik adalah mengikuti atau mengambil hukum yang masih dhani menurut ketentuan dari berbagai macam madhab.
. Contoh nikah tanpa wali dan saksi adalah sah asal ada iklan atau pengumuman. Menurut madzhab Hanafi, sah nikah tanpa wali, sedangkan menurut madzhab Maliki, sah akad nikah tanpa saksi.

Pada dasarnya talfiq dibolehkan dalam agama, selama tujuan melaksanakan talfiq itu semata-mata untuk melaksanakan pendapat yang paling benar setelah meneliti dasar hukum dari pendapat itu dan mengambil yang lebih kuat dasar hukumnya.
Ada talfiq yang tujuannya untuk mencari yang ringan-ringan saja, yaitu mengikuti pendapat yang paling mudah dikerjakan sekalipun dasar hukumnya lemah. Talfiq semacam ini yang dicela para ulama. Jadi talfiq itu hakekatnya pada niat.

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/sholat-rawatib/

Ada beberapa pendapat tentang hukum talfik

1. Mengharamkan talfik secara mutlak dalam amalan hukum baik yang sejalan maupun tidak.
2. Mengharamkan tapi tidak mutlak
Membolehkan talfik secara persoalan-persoalan hukum yang sejalan dan terpisah seperti sholat menurut madhab Hanafi berzakat menurut Syafii. Dan tidak boleh dalam hukum yang sejalan. Seperti wudlu tentang wajibnya mengikuti Hanafi, sedang menurut batalnya menurut Syafii dan sebagainya.
3. Membolehkan talfik secara mutlak baik dalam amalan hukum yang sejalan atau terpisah, berarti boleh beramal-amal pada suatu masalah hukum atas dasar banyak madhab dan memilih mana yang lebih mudah untuk dilaksanakan.
Jika kita telaah anjuran Nabi kepada umat islam, pada dasarnya mengerjakan soal-soal agama itu dikerjakan secara mudah atau tidak memberatkan asal tidak meninggalkan pokok agama.
Nabi bersabda
“Agama Islam itu adalah mudah dan tidak sekali amaliyah agama dipersukar oleh seseorang melainkan dia sendiri akan lamah dan patah (mengamalkanny)

Firman Allah:
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”