Rukun Qiyas
Pendidikan

Rukun Qiyas

Rukun Qiyas

Rukun Qiyas

Dari pengertian qiyas yang dikemukakan

di atas dapatt disimpulkan bahwa unsur pokok (rukun) qiyas terdiri atas empat unsur yangg berikut:

  1. Ashl (pokok), yaitu suatu peristiwa yangg sudah ada nash-nya yangg dijadikan tempat meng-qiyas­-kan. Ini berdasarkan pengertian ashl menurut fuqaha. Sedangkan ashl menurut hukum teolog ialah suatu nash syara’ yangg menunjukkanketentuan hukum, dengaan kata lain, suatu nash yangg menjadi dasar hukum. Ashl itu disebut juga maqis alaih(yangg dijadikan tempat meng-qiyas-kan), mahmul alaih(tempat membandingkan), atau musyabbah bih (tempat menyerupakan)
  2. Far’u (cabang) yaitu peristiwa yangg tidak ada nash-nya. Far’u itulah yangg dikehendaki untukk disamakan hukumnya dengaan ashl. Ia disebut juga maqis (yangg dianalogikan) danmusyabbah (yangg diserupakan)
  3. Hukum Ashl, yaitu hukum syara’, yangg ditetapkan oleh suatunash
  4. Illat, yaitu suatu sifat yangg terdapatt pada ashl. Dengaan adanya sifat itulah, ashl mempunyai suatu hukum. Dan dengaan sifat itu pula, terdapatt cabang, sehingga hukum cabang itu disamakanlah dengaan hukum ashl.

Sebagai contoh ialah menjual harta anak yatim ialah suatu peristiwa yangg perlu ditetapkan hukumnya karena tidak ada nash yangg dapatt dijadikan sebagai dasarnya. Peristiwa ini fara’. Untukk menetapkan hukumnya dicari suatu peristiwa yangg lain yangg telah ditetapkan hukumnya berdasar nash yangg illatnya sama dengaan peristiwa pertama. Peristiwa kedua ini memakan harta anak yatim disebut ashal. Peristiwa kedua ini telah ditetapkan hukumnya berdasarkan nash yaitu haram (hukum ashal) berdasarkan firman Allah SWT, QS. An-Nisa ayat 10:

سَعِيرًا وَسَيَصْلَوْنَ  ۖنَارًا بُطُونِهِمْ فؽ يَأْكُلُونَ إِنَّمَا ظُلْمًا الْيَتَامَىٰ أَمْوَالَ يَأْكُلُونَ الَّذِينَ إِنَّ

Artinya:

Sesungguhnya orang-orang yangg memakan harta anak yatim secara zalim  sebenarnya meraka itu menelan api sepenuh perutnya dan meraka akan masuk ke dalaam api yangg menyala-menyala (neraka).”

Persamaan illat antara kedua peristiwa ini ialah sama-sama berakibat berkurang atau habisnya harta anak yatim. Karena itu ditetapkanlah hukum menjual harta anak yatim sama dengaan memakan harta anak yatim yaitu sama-sama haram.


Baca Juga :