Agama

Sistematika Hukum Islam

Sistematika Hukum Islam

Sistematika Hukum Islam

Para ulama fiqh telah membagi dan mengelompokkan hukum islam ke empat kelompok yang besar:

1. Hukum ibadat

Yaitu ketentuan hukum islam yang mengatur hubungan antara manusia dengan tuhannya.
Seperti: sholat, zakat, puasa, dan lain sebagainya.

2. Hukum mu’amalat

Yaitu ketentuan hukum islam yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam masalah sosial ekonomi.

Seperti: jual beli, sewa menyewa, pinjam meminjam, perburuhan dan lain sebagainya.

3. Hukum Munakahat/Pernikahan

Yaitu yang mengatur hubungan manusia dengan manusia didalam bidang pernikahan tatacara dan syarat rukun pernikahan, masalah waris, dan nafkah. Hukum-hukum yang bertalian dengan kehidupan rumah tangga.

4. Hukum jinayat

Yaitu hukum islam yang mengatur tindak pidana berikut sanksinya.
Empat kelompok hukum tersebut kembali kepada induknya yang asasi ialah al-qur’anul karim.
Didalam al-qur’an masalah tersebut di atas diutarakan secara garis besar saja. Beberapa contoh dapat disebut di sini antara lain:

1. Hukum sholat dan perintah zakat.
Allah berfirman dalam surah An-nisa ayat 17:

“Dirikanlah sholat dan bayarlah zakat”

2. Anjuran mengadakan persaksian dikala mengadakan perjanjian hutang piutang dan berwasiat. Allah berfirman dalam surah al-baqoroh ayat 282:

“wahai orang-orang yang beriman jika kamu mengadakan perjanjian hutang piutang maka tulislah dan persaksikanlah piutang itu dengan dua orang saksi laki-laki diantara kamu.”
Al-maidah ayat 106:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka hendaklah wasiat itu disaksikan oleh dua orang yang adil diantara kamu.”
3. Hukum Pernikahan. Allah berfirman:

“Maka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senagi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berbuat adil, maka kawinilah seorang saja atau budak-budak yang kam miliki.” (An-nisa’ ayat 3).
“janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman, sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baikdari wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu….” (Al-baqoroh ayat 221)
Untuk menjelaskan secara terperinci terhadap hukum al-Qur’an yang sifatnya masih umum dan glbal, maka Allah swt telah menyerahkan tugas ini kepada Rasulullah Saw dengan firmanNya:

“Dan kami telah menurunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menjelaskan kepada para manusia apa yang diturunkan kepada mereka.” (An-nahl ayat 44)
Dengan firman Allah ini telah menegaskan bahwa tugas dan kewenangan untuk menjelaskan Al-Qur’an yang berisi ketentuan hukum yang sifatnya masih umum dan global tadi diserahkan sepenuhnya kepada Muhammad Rasullah saw sebagai pembawa wahyu Allah itu sendiri yaitu al-qur’an.
Dengan ucapan dan juga perbuatan-perbuatannya maka nabi Muhammad saw menjelaskan Al-Qur’an yang mengandung beberapa ketentuan hukum dan ucapan-ucapan serta perbuatan-perbuatan beliau itulah yang disebut dengan sunah atau hadits.
Dalam masalah sholat misalnya seperti yang tersebut dimuka, nabi kemudian menjelaskan secara terperinci bagaimana melakukan shalat itu dalam praktek dan amaliyah. Setelah beliau memberikan petunjuk pelaksanaannya yang konkrit itu lalu beliau bersabda:
صلوا كما رايتموني اصلي
“Shalatlah sebagaiman kamu sekalian melihat saya shalat.”
Demikian pula beliau telah memberikan contoh bagaimana cara melaksanakan ibadah haji setelah itu beliau bersabda:
خذوا عني مناسككم
“Ambillah dari saya ibadah hajimu. “yakni contohlah perbuatan saya ini dalam melaksanakan ibadah haji.”
Dengan penjelasan singkat diatas, maka nyatalah bahwa Sunnah atau Hadits mempunyai peranan yang menetukan dalam pembinaan hukum islam. Ia adalah sumber hukum islam yang kedua setelah al-qu’an dan merupakan hujjah bagi kaum muslimin dalam melaksanakan syari’at islam. Tanpa sunnah atau hadits tidak mungkin umat islam melkasanakan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan oleh Allah Swt di dalam Al-qur’an.
Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada segenap kaum muslimin agar menaai semua perintah nabi dan menjauhkan diri dari larangan beliau dan taat kepada nabi itu dianggap sebagai taat kepada Allah.
Firman Allah (Ali imron ayat 32):

“Katakanlah: Taatlah kepada allah dan Rasul. Bila kau sekalian berpaling, maka sungguh Allah tidak suka kepada orang-orang kafir.”
Selanjutnya dalam surat Al-Hasyr ayat 7 Allah berfirman:

“apa yang diberikan rasul kepadamu maka terimalah dia dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.”
Selanjutnya firman Allah (An-nisa’ Ayat 80)
“Barang siapa taat kepada Rasul maka berarti ia sungguh taat kepada Allah.
Dan firman-Nya pula (Al-Ahzab ayat 36)
“dan tidaklah patut bagi seorang muslim lelaki maupun perempuan apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan (suatu ketetapan) akanada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya maka ia tlah sesat sesesat-sesatnya.”
Tidaklah syah dan ragu-ragu lagi bahwa al-qu’an yang diwahyukan kepada Muhammad Rasulullah Saw mengandung nilai kebenaran yang mutlak dan hakiki, karena ia adalah firman Allah dzat yang maha sempurna dan maha mengetahui. Demikian pula halnya hadits, bahwa nabi Muhammad Saw adalah seorang manusia biasa sebaga mana lazimnya manusia-manusia yang lain, tetapi di dalam masalah tasyri’ (menetapkan hukum-hukum syariat) beliau tidak lepas dari control yang senantiasa dikendalikan oleh Allah Swt. Dengan adanya control ini maka segala ucapan dan perbuatan beliau yang menyangkut masalah tasyri’ senantisasa berdasarkan wahyu yang beliau terima dari Allah swt.

Baca Juga: