Tawakal
Pendidikan

Tawakal

Tawakal

Tawakal
Tawakal

Tawakal, secara harfiah , berarti menyerahkan diri. Pengertian umumnya adalah pasrah dan menyerahkan segalanya kepada Allah setelah melakukan suatu rencana atau usaha.[30]Sikap ini erat kaitannya dengan amal dan keikhlasan hati, yaitu ikhlas semata-mata karena Allah dan menyerahkan segalanya kepada Allah. Menurut Al-Qusyairi, tawakal tempatnya di hati dan terjadi setelah hamba meyakini bahwa segala ketentuan hanya didasarkan pada ketentuan Allah. Semuanya adalah takdir Allah.[31]Sahl bin Abdullah At-Tustari berpendapat bahwa tawakal adalah berpegang teguh kepada Allah dan menerima dengan segenap kepasrahan.[32] Bertawakal termasuk perbuatan yang diperintahkan oleh Allah, sebagaimana dalam firmannya:

وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُتَوَكِّلُوْنَ.
Artinya: ,,,dan Hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal.[33]
Setelah Allah menyebutkan tawakalnya semua orang yang bertawakal (secara umum), kemudian menghususkan tawakalnya orang-orang mukmin, kemudian berikut ini Allah menyebutkan tawakalnya orang-orang yang sangat khusus:

وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبْ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللهَ بَالِغٌ اَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللهُ لِكُلِّ شَئٍ قَدْرًا.
“Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu[34]
Maka orang-orang yang bertawakal itu terbagi dalam tiga tingkatan:
pertama, tawakalnya orang mukmin, didalam syaratnya ada tiga macam, sebagaimana yang dikemukakan oleh Abu Turab an Nakhsyabi tatkala ditanya tentang tawakal,” Tawakal adalah melemparkan diri dalam penghambaan (ubudiyyah), ketergantungan hati dengan sang maha memelihara (rububiyyah), dan tenang dan kecukupan. Jika diberi akan bersyukur, jika tidak diberi tetap bersabar dan rela dengan takdir yang telah ditentukan”.
Kedua, adalah tingkatan tawakalnya orang-orang khusus, sebagaimana yang di katakan oleh Abu al-Abbas Ahmad bin’Atha’al Adami rahimahullah, “Barangsiapa bertawakal kepada Allah, bukan karena Allah, maka sebenaranya ia bertakwa kepada Allah, dengan Allah dank arena Allah. Ia hanya akan bertawakal kepada Allah dalam tawakalnya, bukan karena faktor atau sebab lain”.
7. Ridha
Ridha secara harfiah, berarti rela, senang, dan suka. Adapun ridha menurut Abu Bakar Tahir adalah sikap yang sama sekali tidak terpengaruh oleh keburukan sesuatu yang diterima dari Allah, kecuali selalu disikapi dengan senang hati. Sedangkan menurut Rabi’ah al-Adawiyah, ridha yaitu orang yang selalu senang hati menerima musibah, sama halnya ketika ia sedang menerima nikmat, maka itulah tanda-tanda orang yang ridha.[35]Sebagaimana firman Allah:

رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ.
Artinya: Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepadanya.[36]
Maksudnya: Allah meridhai segala perbuatan-perbuatan mereka, dan merekapun merasa puas terhadap nikmat yang Telah dicurahkan Allah kepada mereka. Dalam ayat ini disebutkan, bahwa ridha Allah kepada mereka (hamba) jauh lebih besar dan lebih dahulu dari pada ridha mereka kepadanya.
Sementara itu ridha adalah pintu Allah yang paling agung dan merupakan surge dunia. Dimana ridha adalah menjadikan hati seorang hamba merasa tentang di bawah kebijakan hukum Allah Azza wa Jalla.
Sedangkan orang-orang yang ridha itu dibedakan menjadi tiga kondisi:
a. Orang yang berusaha mengikis rasa gelisah dari dalam hatinya, sehingga hatinya tetap stabil dan seimbang terhadap Allah SWT.
b. orang yang tidak lagi melihat ridhanya pada Allah, karena ia hanya melihat ridhanya Allah kepadanya.
c. Ia sudah tidak melihat ridha Allah kepadanya atau ridhanya kepada Allah.[37]

Sumber : https://tribunbatam.co.id/goetia-apk/