Pendidikan

UNSUR UNSUR PERBUATAN PIDANA

UNSUR UNSUR PERBUATAN PIDANA

Pada hakikatnya setiap perbuatan pidana harus terdiri dari unsur-unsur lahiriah oleh perbuatan yang mengandung kelakuan dan akibat yang ditimbulkan karenanya. Sebuah perbuatan tidak bisa begitu saja dikatakan perbuatan pidana. Oleh karena itu, harus diketahui apa saja unsur atau ciri dari perbuatan pidana itu sendiri.

Ada begitu banyak rumusan terkait unsur-unsur dari perbutan pidana. Tetapi dapat dirangkum menjadi dua cakupan umum. Yaitunya unsur-unsur yang disepakati oleh sarjana dan unsur-unsur yang tidak disepakati oleh sarjana hukum.

  1. Unsur Unsur Perbuatan Pidana Yang Disepakati Oleh Para Sarjana

Setiap sarjana memiliki perbedaan dan kesamaan dalam rumusannya. Tetapi meskipun begitu dapat disimpulkan sekian banyak rumusan menjadi empat rumusan unsur-unsur perbuatan pidana. Unsur-unsur itu adalah:

  1. a)Sikap atau prilaku manusia[9] (handeling)

Adanya perbuatan manusia adalah unsur yang utama dari perbuatan pidana, sebab merupakan suatu kepastian bahwa hanya perbuatan manusialah yang dapat dijatuhi hukuman pidana.

  1. b)Memenuhi rumusan undang-undang
  2. c)Melawan hukum

Salah satu unsur dari tindak pidana yang penting adalah unsur sifat melawan hukum. Dalam kepustakaan hukum pidana sifat melawan hukum ini ada dua yaitu melawan hukum formil dan sifat melawan hukum materil. Menurut ajaran sifat melawan hukum yang formil suatu perbutan itu bersifat melawan hukum apabila perbuatan diancam pidana dan dirumuskan sebagai suatu delik dalam undang-undang, sedang sifat melawan hukumnya perbuatan itu dapat dihapus hanya berdasarkan suatu ketentuan udang-undang.

Menurut ajaran sifat melawan hukum materil,[10] suatu perbutan itu melawan hukum atau tidak, tidak hanya terdapat dalam undangan-undang saja akan tetapi harus dilihat berlakunya asas-asas hukum yang tidak tertulis.

Dalam RUU KUHP 1997/1998 secara tegas menganut ajaran sifat melawan hukum materil, hal ini sebagai konsekwensi dari perluasan asas legalitas yang menegaskan batas-batas tindak pidana tidak hanya secara tegas dirumuskan dalam undang-undang tetapi juga meliputi perbuatan-perbuatan yang menurut hukum yang hidup dipandang sebagai delik. Hal ini terlihat dalam pasal 17 RUU KUHP yang menyatakan perbuatan yang dituduhkan harus merupakan perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh suatu perbuatan perundang-udangan dan perbuatan tersebut harus juga bertentangn dengan hukum.

Utrecht mengemukakan diterimanya ajaran sifat melawan hukum materil adalah suatu keharuskan gunanya untuk melunakan sedikit sempit berlakunya pasal 1 ayat 1 KUHP, selanjutnya utrecht menyatakan ajaran sifat melawan hukum materil harus diterima dalam arti negatif.

Sifat melawan hukum dalam fungsi yang negatif mengandung arti bahwa dalam hal memperkecualikan suatu perbuatan yang meskipun masuk dalam perumusan undang-undang tindak lantas diartikan suatu perbuatan pidana, sedangkan dalam fungsi yang positif  dimaksudkan apabila suatu perbuatan yang dilakukan tidak dilarang oleh undang-undang, tetapi oleh masyarakat dianggab keliru atau salah, maka dengan berstandar pada azaz legalitas pasal 1 (1) KUHP maka mungkin si pembuat di kenai pidana.

Berikut beberapa unsur dalam sifat melawan hukumnya suatu perbuatan:

1)      Unsur kesalahan

Melawan hukum dan kesalahan adalah dua anasir tindak pidana saling berhubungan apabila perbuatan yang bersangkutan tidak melawan hukum maka menurut  hukum pidana, perbuatan tersebut tidak dapat dipertanggung jawabkan, tidak mungkin ada kesalahan tanpa melawan hukum .

2)      Kemampuan bertanggung jawab

KUHP tidak memberikan jawaban atau penafsiran secara eksiplit. Seseorang dikatakan mampu bertanggung jawab jika jiwanya sehat. Deskriptif karena keadaan jiwa itu digambarkan menurut apa adanya oleh psychiater dan normatif karena hakimlah yang menilai berdasarkan hasil pemeriksan.

3)      Kesengajaan

Menurut crimil wetboek  tahun 1809 makna sengaja itu dimaksud membuat sesuatu atau membuat sesuatu yang dilarang atau diperintahkan oleh hukum. Menurut memorie van toelichting sengaja itu sama dengan “willen en wetten” (dikehendaki dan diketahui)

Dalam mengemukan sifat sengaja ada dua teori

  1. Teori kehendak.Van heppel mengemukankan sengaja adalah kehendak membuat suatu tindakan dan kehendak menimbulkjan suatu akibat
  2. Teori membayangkan. Frank mengemukakan adalah sengaja apabila suatu akaibat dibayangkan sebagai maksud dan oleh sebab itu tindakan yang bersangkutan sesuai dengan bayangan terlebih dulu telah disirat tersebut.

Dalam kepustakaan hukum pidana dibedakan anatara tiga macam :

  1.             Sengaja sebagai maksud (opzet all ogmerk) adalah apabila pembuat menghendaki akibat perbuatannya
  2.             Sengaja dilakukan dengan keinsfan/kesadran kepastian

                            iii.            sengaja dengan sadar kemungkinan.

  1. d)Pelaku dapat dipidana (cakap hukum)
  2. Unsur Unsur Perbuatan Pidana yang Tidak Disepakati Oleh Para Sarjana[11]
  3. a)Schuld (kesalahan)

Dengan berdasarkan asas tersebut, maka seorang dinilai berbuat kesalahan ketika melanggar hukum. Sedangkan secara mendasar dalam kesalahan ada dua pembagian, yaitu Pertama, opzet (kesengajaan) dan kedua, Culpa (kurang berhati-hati atau kelalaian).

Cansil Christine membagi kesalahan kedalam empat kategori. Pertama, Doluis(kesengajaan) yang sama artinya dengan opzet. Kedua, Culpa (alpa, lalai). Ketiga, dolus generalis (kesengajaan tak tentu). Keempat, Aberratio Ictus (salah kena). Berikut akan kami paparkan satu persatu secara singkat.

  • Dolus  memiliki arti yang sama dengan opzet yaitu kesengajaan. Perlu diketahui bahwa kitab Undang-Undang Hukum Pidana tidak merumuskan apa yang dimaksud dengan kesengajaan. Kesengajaan merupakan suatu niat atau i’tikad diwarnai sifat melawan hukum, kemudian dimanifestasikan dalam sikap tindak.
  • Culpa berarti ketidak sengajaan yang bermakna kesalahan pada umumnya. Maka seorang hakim tidak bisa mengukur ketidak sengajaan atau kelalaian berdasar pada dirinya sendiri, melainkan melihat bagaimana hal umumnya pada masyarakat.
  • Dolus generalis. Hal yang mebedakan antara dolus generalis dan dolus atau opzet ialah dari tujuannya. Bila dolus dan opzet memiliki satu tujuan yang pasti, maka dolus generalis tak memiliki tujuan yang pasti. Contohnya dengan seseorang yang meracuni pusat air minum dengan maksud agar semua orang yang meminum air tersebut akan terbunuh. Tidak melihat siapa yang terbunuh.
  • Aberratio Ictus makna katanya salah kena, berarti akibat tidak sesuai dengan tujuan. Contoh sederhana seseorang yang akan menembak burung meleset dan mengenai manusia.

sumber :

https://dreamboxsaudi.org/alliance-apk/